31 Agustus 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar 0,12%, dengan tekanan terbesar berasal dari sektor teknologi dan transportasi & logistik yang masing-masing terkoreksi sebesar 1,95% dan 1,89%. Investor asing juga melakukan aksi jual bersih sebesar Rp320,52 miliar dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Meski demikian, koreksi IHSG relatif terbatas, menunjukkan tekanan jual asing masih cukup mampu diserap oleh investor domestik.
Sentimen aset domestik mendapat dukungan dari meredanya sejumlah tekanan eksternal. Harga minyak Brent turun lebih dari 7% hingga di bawah US$88/barel, sementara penurunan yield US Treasury membantu yield SBN 10 tahun turun ke sekitar 7,00% dan Rupiah menguat hingga di bawah 17.700 per dolar AS. Penurunan harga minyak mengurangi risiko inflasi impor, sementara yield global yang lebih rendah membuat obligasi emerging market termasuk Indonesia relatif lebih menarik. Kejelasan proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia juga turut mengurangi ketidakpastian domestik.
Secara keseluruhan, penurunan harga minyak dan yield global menjadi faktor pendukung bagi Rupiah dan obligasi Indonesia, meskipun arus keluar Investor asing dan risiko geopolitik tetap perlu diperhatikan. Dalam kondisi tersebut, saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi dan valuasi menarik tetap dapat menjadi pilihan, disertai obligasi berkualitas sebagai sumber pendapatan yang stabil. Diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah investasi tetap penting dalam menghadapi perubahan sentimen global.
Data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi masih bertahan di tengah pertumbuhan yang mulai melambat. Core PCE tercatat 3,3% YoY, sesuai konsensus dan tidak berubah dari sebelumnya, sementara secara bulanan naik 0,2%, sesuai konsensus namun lebih tinggi dari 0,1% sebelumnya. Pertumbuhan GDP tercatat 1,5% QoQ, sesuai ekspektasi tetapi melambat dari 2,1%. Kombinasi inflasi yang masih bertahan dan pertumbuhan yang melambat membuat arah kebijakan The Fed semakin bergantung pada perkembangan data berikutnya.
Di Jackson Hole, Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal yang lebih hawkish dengan menekankan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan kondisi finansial belum terlihat cukup ketat, sehingga peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka apabila inflasi tidak bergerak menuju target. Pernyataan tersebut kembali meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi dan berpotensi memberikan tekanan pada valuasi saham serta yield obligasi. Minggu ini, perhatian akan beralih ke pasar tenaga kerja AS, dengan Non-farm Payrolls diperkirakan bertambah 45 ribu dan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%; data yang lebih kuat dari perkiraan dapat semakin memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang ketat.
Sentimen pasar Asia secara umum mendapat dukungan dari turunnya harga minyak dan meredanya tekanan yield obligasi AS setelah perkembangan diplomatik di Timur Tengah membaik. Kondisi tersebut membantu mengurangi risiko inflasi bagi negara pengimpor energi sekaligus menurunkan tekanan pendanaan terhadap aset emerging market. Namun, ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya hilang sehingga pergerakan pasar regional masih berpotensi volatil.
Di Jepang, pergerakan Yen kembali menjadi perhatian setelah mata uang tersebut kembali mendekati ¥160/US$, meskipun sebelumnya AS dan Jepang telah melakukan intervensi untuk menahan pelemahan yang berlebihan. Nada hawkish The Fed dapat kembali memperkuat dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap Yen, sementara pergerakan nilai tukar yang terlalu cepat berpotensi meningkatkan volatilitas pasar obligasi dan saham Jepang. Investor regional selanjutnya juga akan mencermati pertemuan G20 untuk melihat perkembangan kebijakan nilai tukar dan arah suku bunga global.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,29% | 5,61% | |
| Inflasi ID | 2,88% | 3,34% | |
| Suku Bunga ID | 5,75% | 5,75% | |
| Pengangguran ID | 4,65% | 4,68% | |
| Neraca Dagang ID | $-0,45 Bio | $-1,61 Bio | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 1 September | US – ISM Manufacturing PMI | 55,3 | 55,6 |
| 1 September | ID – Inflation Rate m/m | 0,2% | -0,14% |
| 1 September | ID – Inflation Rate y/y | 3,13% | 2,88% |
| 1 September | ID – Core Inflation Rate y/y | 2,8% | 2,76% |
| 1 September | ID – Trade Balance | -US$0,6B | -US$0,45B |
| 4 September | US – Non-farm Payrolls | 45K | -23K |
| 4 September | US – Unemployment Rate | 4,2% | 4,1% |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 26 Agustus | US – Core PCE Price Index y/y | 3,3% | 3,3% | 3,3% |
| 26 Agustus | US – Core PCE Price Index m/m | 0,2% | 0,2% | 0,1% |
| 26 Agustus | US – GDP Growth Rate q/q Adv | 1,5% | 1,5% | 2,1% |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)