24 Agustus 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 3,64%, didorong oleh sektor Properti dan Energi yang masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 5,72% dan 5,67%. Investor asing juga melakukan aksi beli bersih sebesar Rp548,58 miliar dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan pasar domestik mulai kembali diikuti oleh masuknya dana Investor asing.
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75%, sesuai konsensus dan tidak berubah dari pertemuan sebelumnya. Keputusan tersebut menunjukkan BI masih menjaga keseimbangan antara stabilitas Rupiah dan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,58% YoY dari 12,67%, didukung oleh inisiatif KLM, menunjukkan aktivitas pembiayaan domestik masih cukup kuat.
Sentimen domestik juga didukung oleh konsistensi arah kebijakan BI dan penurunan yield US Treasury setelah pemerintah AS meningkatkan buyback obligasi jangka panjang. Kondisi tersebut membantu pasar obligasi Indonesia, sementara arus dana asing turut memberikan dukungan terhadap Rupiah dan saham. Namun, kenaikan Brent hingga di atas US$93/barel akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi risiko karena dapat meningkatkan tekanan inflasi, Rupiah, serta beban subsidi pemerintah.
Secara keseluruhan, kondisi domestik masih relatif lebih suportif dibandingkan tekanan dari eksternal. Stabilitas kebijakan BI dan kembali masuknya dana asing menjadi faktor pendukung, sementara harga minyak yang tinggi tetap perlu diperhatikan. Dalam kondisi tersebut, saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi dan valuasi menarik tetap dapat menjadi pilihan, disertai obligasi berkualitas sebagai sumber pendapatan yang stabil dan diversifikasi lintas kelas aset serta wilayah investasi.
Di AS, pertemuan The Fed menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi masih cukup tinggi, sehingga ekspektasi penurunan suku bunga tetap terbatas. Namun, tekanan pada pasar obligasi mereda setelah US Treasury mengumumkan akan melipatgandakan buyback obligasi jangka panjang, yang membantu menurunkan yield dan meredakan tekanan pada pasar saham. Meski demikian, sentimen selama sepekan masih volatile dan Nasdaq tercatat melemah sekitar 2,48%, menunjukkan bahwa buyback belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran terhadap suku bunga dan inflasi.
Harga minyak juga menjadi perhatian karena eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong Brent kembali di atas US$93/barel. Minyak yang tetap tinggi berpotensi membuat inflasi lebih sulit turun dan dapat membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Minggu ini, pasar akan mencermati Core PCE, dengan konsensus 3,3% YoY dan 0,2% MoM, serta pertumbuhan GDP AS yang diperkirakan melambat menjadi 1,5% QoQ dari 2,1% sebelumnya. Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah tekanan inflasi masih bertahan di tengah mulai melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Di Tiongkok, suku bunga pinjaman 1 tahun dipertahankan di 3,00%, sesuai konsensus dan tidak berubah dari sebelumnya. Kebijakan tersebut telah dipertahankan selama beberapa bulan untuk menjaga biaya pendanaan tetap rendah dan mendukung aktivitas ekonomi. Namun, pasar masih menunggu dukungan yang lebih kuat terhadap permintaan domestik, sehingga Shanghai masih melemah sekitar 0,6% dalam lima hari, sementara Hong Kong menguat 3,6%.
Sementara itu, neraca perdagangan Jepang mencatat defisit ¥634,5 miliar, lebih baik dari konsensus defisit ¥680 miliar tetapi melebar dibandingkan ¥409,9 miliar sebelumnya. Ekspor dan impor sama-sama tumbuh lebih kuat dari perkiraan, menunjukkan aktivitas perdagangan masih solid, namun sentimen pasar global yang volatile tetap membebani saham Jepang dan Nikkei terkoreksi sekitar 4,32% sepanjang pekan. Secara regional, pergerakan pasar Asia masih akan dipengaruhi oleh arah yield AS, perkembangan konflik Timur Tengah, serta kebijakan Tiongkok dalam menopang pertumbuhan ekonominya.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,29% | 5,61% | |
| Inflasi ID | 2,88% | 3,34% | |
| Suku Bunga ID | 5,75% | 5,75% | |
| Pengangguran ID | 4,65% | 4,68% | |
| Neraca Dagang ID | $-0,45 Bio | $-1,61 Bio | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 26 Agustus | US – Core PCE Price Index y/y | 3,3% | 3,3% |
| US – Core PCE Price Index m/m | 0,2% | 0,1% | |
| US – GDP Growth Rate q/q Adv | 1,5% | 2,1% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 19 Agustus | ID – Interest Rate | 5,75% | 5,75% | 5,75% |
| 20 Agustus | CN – Interest Rate | 3,00% | 3,00% | 3,00% |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)