6 Juli 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar 0,35% didorong oleh sektor finansial dan sektor kesehatan yang masing-masing menyumbang -1,35% dan -1,27% terhadap indeks. Investor asing malah melakukan aksi jual sebesar Rp2,95 triliun dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Menunjukkan kurangnya kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.
Inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,34% YoY pada Juni, lebih tinggi dari ekspektasi dan mendekati batas atas target Bank Indonesia. Kondisi ini memperkuat sikap hati-hati bank sentral terhadap arah kebijakan moneter ke depan. Selain itu, neraca perdagangan secara mengejutkan mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas eksternal dan nilai tukar Rupiah. Meskipun penurunan harga minyak global berpotensi membantu ke depan, Bank Indonesia diperkirakan tetap akan mempertahankan kebijakan yang berhati-hati.
Sentimen pasar global membaik seiring normalisasi harga minyak yang kembali mendekati level sebelum konflik Timur Tengah. Peningkatan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dan berlanjutnya dialog diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran telah menurunkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Kondisi ini membantu memperbaiki prospek inflasi global, menurunkan tekanan terhadap imbal hasil obligasi, serta meningkatkan minat Investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pemulihan sentimen masih rapuh karena kesepakatan antara AS dan Iran belum sepenuhnya final. Di sisi lain, data ekonomi AS yang beragam membuat arah kebijakan The Fed masih belum pasti. Pasar tenaga kerja mulai melemah, namun inflasi masih berada di atas target sehingga pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada 2026. Di Indonesia, kombinasi inflasi yang meningkat dan neraca perdagangan yang berbalik defisit diperkirakan akan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek.
Data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang beragam. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2%, namun penciptaan lapangan kerja (Nonfarm Payrolls) hanya mencapai 57 ribu, jauh di bawah ekspektasi pasar, mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Di sisi lain, aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansi meskipun sedikit di bawah perkiraan. Sementara itu, Kanada mencatat pertumbuhan ekonomi yang sesuai ekspektasi, namun melambat dibandingkan periode sebelumnya, mencerminkan moderasi aktivitas ekonomi.
Di Jepang, kepercayaan konsumen meningkat tipis namun masih berada di bawah ekspektasi, mencerminkan pemulihan konsumsi rumah tangga yang masih terbatas. Sementara itu, Tiongkok mencatat perbaikan aktivitas ekonomi, dengan indeks PMI manufaktur kembali masuk ke zona ekspansi di 50,3, sementara PMI non-manufaktur naik menjadi 50,2, menunjukkan aktivitas sektor jasa dan konstruksi masih bertumbuh meski dalam laju yang moderat.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,61% | 5,39% | |
| Inflasi ID | 3,34% | 3,08% | |
| Suku Bunga ID | 5,25% | 4,75% | |
| Pengangguran ID | 4,85% | 4,76% | |
| Neraca Dagang ID | $-1,61 Bio | $0,09 Bio | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 9 Juli | CN – Inflation m/m | 0,0% | -0,1% |
| CN – Inflation y/y | 1,2% | 1,2% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 1 Juli | ID - Trade Balance | $-1,61 Bio | $4,0 Bio | $0,09 Bio |
| ID - Inflation Rate m/m | 0,44% | 0,2% | 0,28% | |
| ID - Inflation Rate y/y | 3,34% | 3,1% | 3,08% | |
| ID - Core Inflation Rate y/y | 2,76% | 2,4% | 2,59% | |
| US - ISM Manufacturing PMI | 54,0 | 53,7 | 54,0 | |
| 2 Juli | US - Nonfarm Payroll | 172K | 114K | 172K |
| US - Unemployement Rate | 4,3% | 4,3% | 4,3% | |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)