26 Januari 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar -0,91% didorong oleh sektor transportasi dan sektor industrial yang masing-masing menyumbang -6,99% dan -6,68% terhadap indeks. Investor asing juga melakukan aksi jual sebesar Rp3,05 triliun dalam sepekan terakhir.
Di dalam negeri, pasar saham mengalami koreksi yang dipicu oleh pelemahan pada beberapa saham komoditas serta spekulasi dan posisi defensif menjelang potensi perubahan metodologi MSCI, dengan kejelasan yang diharapkan muncul pada pekan berikutnya. Di pasar obligasi, koreksi yield jangka pendek membuka peluang untuk menambah durasi, terutama di tengah ekspektasi pelonggaran kebijakan ke depan. Sementara itu, pasar saham Indonesia dinilai tetap menarik dalam semesta investasi kami, dengan pendekatan pengelolaan aktif untuk memanfaatkan peluang di tengah dinamika siklus saat ini.
Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan sesuai dengan konsensus pasar, dengan fokus utama pada menjaga stabilitas nilai tukar serta mendorong transmisi penurunan suku bunga ke sektor riil. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik global, Bank Indonesia mengambil langkah untuk menjaga Rupiah, yang tercatat menguat ke sekitar Rp16.820,- per dolar AS pada penutupan pasar, dibandingkan level terlemahnya di atas Rp16.980,- yang sempat terjadi dalam minggu ini. Konsensus pasar tetap memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps hingga akhir tahun.
Pergerakan utama pasar global minggu ini dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, khususnya terkait isu Greenland dan Iran. Volatilitas pasar meningkat seiring pernyataan Presiden AS mengenai potensi tambahan tarif serta pembentukan “Board of Peace” yang dibahas dalam forum Davos. Dampak langsung terlihat pada pergerakan harga komoditas seperti minyak mentah dan emas, di mana harga emas kembali mencetak rekor tertinggi. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, dengan ekspektasi satu kali penurunan suku bunga hingga Juli.
Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian meskipun sempat muncul kabar gencatan senjata di Gaza. Konflik yang masih berlanjut menjaga tingkat risiko tetap tinggi dan membuat harga minyak bergerak volatil. Usulan pembentukan Board of Peace dipandang sebagai langkah positif untuk mengawasi transisi pasca perang di Gaza, termasuk upaya menuju gencatan senjata permanen dan rekonstruksi berskala besar. Indonesia termasuk negara yang menyatakan minat untuk berpartisipasi, meskipun inisiatif ini masih dianggap rapuh hingga dampak nyatanya terlihat. Meski demikian, pasar merespons positif dan menilai risiko geopolitik sedikit menurun, yang turut menekan harga minyak.
Di sisi lain, pernyataan Presiden Trump terkait ketertarikan AS terhadap Greenland memicu penolakan dari negara-negara Eropa. Ancaman tarif kembali muncul, kali ini lebih sebagai alat geopolitik dibandingkan kebijakan perdagangan. Namun, pendekatan diplomasi dengan NATO berhasil meredakan ketegangan, dengan pembahasan kerangka kerja terkait kawasan Arktik. Ancaman tarif pun ditarik kembali, memunculkan kembali narasi “TACO” yang mendorong peningkatan selera risiko. Di balik isu tersebut, kepentingan utama AS adalah akses terhadap mineral tanah jarang yang strategis di wilayah tersebut. Ketegangan geopolitik yang masih tinggi membuat aset lindung nilai seperti emas terus diminati, mendorong harga semakin tinggi di tengah melemahnya kepercayaan terhadap dolar AS.
Amerika Serikat merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 yang menunjukkan pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan pasar. Kinerja ekonomi ini didorong oleh peningkatan belanja konsumen, ekspor yang lebih solid, serta belanja pemerintah yang lebih besar. Sementara itu, inflasi inti berbasis PCE serta data belanja konsumen bulan November tercatat stabil dan sesuai dengan ekspektasi, menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih kuat.
China mencatat pertumbuhan ekonomi terlemah dalam tiga tahun terakhir, seiring dengan tekanan deflasi yang masih berlanjut dan pemulihan sektor properti yang berjalan lambat. Kondisi ini mencerminkan tantangan struktural yang masih dihadapi perekonomian domestik meskipun berbagai stimulus telah diberikan.
Bank of Japan mempertahankan suku bunga acuannya sesuai dengan ekspektasi pasar. Keputusan ini diambil di tengah data inflasi yang secara mengejutkan lebih rendah dari perkiraan, terutama disebabkan oleh kenaikan harga beras yang lebih lambat dari sebelumnya, sehingga menekan laju inflasi secara keseluruhan.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya |
|---|---|---|
| PDB ID | 5,04% | 5,12% |
| Inflasi ID | 2,92% | 2,72% |
| Suku Bunga ID | 4,75% | 4,75% |
| Pengangguran | 4,85% | 4,76% |
| Neraca Dagang ID | $2,66 Bio | $2,4 Bio |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 29-Jan | US – Interest Rate | 3,75% | 3,75% |
| US – Initial Jobless Claim | 205k | 200k | |
| 31-Jan | CN – NBS Manufacturing PMI | 50,2 | 50,1 |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 20-Jan | CN - Interest Rate | 3,5% | 3,5% | 3,5% |
| 21-Jan | ID - Interest Rate | 4,75% | 4,75% | 4,75% |
| 22-Jan | US – GDP Growth Rate q/q | 4,4% | 3,7% | 2,1% |
| US – Initial Jobless Claim | 200k | 205k | 198k | |
| 23-Jan | JP – Interest Rate | 0,75% | 0,75% | 0,75% |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)