19 Januari 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 1,29% didorong oleh sektor konsumsi siklikal dan sektor industrial yang masing-masing menyumbang +4,75% dan +3,99% terhadap indeks. Investor asing juga melakukan aksi beli sebesar Rp3,16 triliun dalam sepekan terakhir.
Pasar saham Indonesia menunjukkan kecenderungan yang lebih kuat ke saham-saham berbasis komoditas sejak awal tahun, yang turut mendorong kinerja indeks secara keseluruhan. Hal ini menegaskan posisi Indonesia yang relatif unik di kawasan ASEAN sebagai proksi komoditas. Arus dana asing terus mencatatkan net inflow sejak September tahun lalu, seiring dengan membaiknya likuiditas dan sentimen di pasar saham domestik.
Di pasar obligasi, tekanan muncul akibat pemberitaan defisit fiskal yang lebih besar dari perkiraan, yakni mencapai 2,92% meskipun masih berada di bawah batas 3%, serta pelemahan nilai tukar Rupiah yang berkelanjutan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor global dan mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah. Yield SUN tenor 10 tahun terkoreksi ke sekitar 6,25%, sementara yield tenor 2 tahun relatif lebih stabil namun meningkat ke sekitar 5,1%.
Pemerintah menargetkan defisit anggaran 2026 sebesar 2,68% dengan proyeksi peningkatan pendapatan dan belanja negara, di mana risiko utama terletak pada sisi eksekusi. Meski demikian, komitmen untuk menjaga defisit tetap di bawah 3% dinilai jelas. Ke depan, pemerintah diperkirakan akan aktif menjaga stabilitas nilai tukar, sementara penerbitan obligasi diperkirakan tetap terkendali sehingga likuiditas pasar tetap terjaga sejalan dengan kebijakan Kementerian Keuangan.
Pasar global pada minggu ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan berita utama. Data inflasi konsumen AS yang dirilis relatif sesuai dengan ekspektasi pasar dan tidak mengubah pandangan bahwa The Fed kemungkinan akan menahan suku bunga pada pertemuan mendatang. Namun demikian, kekhawatiran terkait independensi The Fed kembali mencuat, bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan AS. Secara umum, kondisi makroekonomi masih mendukung narasi pelonggaran kebijakan global, meskipun pasar menilai jalur menuju suku bunga terminal tetap rentan dan berpotensi memicu volatilitas.
Tekanan volatilitas pasar juga dipengaruhi oleh faktor politik yang berkaitan dengan anggota The Fed serta ketahanan pasar tenaga kerja AS. Sejak Presiden Trump resmi menjabat, pemerintahannya mendorong penurunan suku bunga yang lebih agresif, meskipun hingga kini The Fed masih mempertahankan pendekatan yang independen dan berbasis data. Berita terbaru mengenai subpoena dari Departemen Kehakiman AS terkait renovasi gedung The Fed turut menambah perhatian pasar, meskipun investor masih mempercayai bahwa The Fed akan tetap menjalankan mandatnya secara independen. Di sisi lain, risiko geopolitik terus menjadi faktor utama yang memengaruhi selera risiko global serta pergerakan harga komoditas, dengan premi risiko yang cenderung meningkat.
China merilis data neraca perdagangan yang menunjukkan akselerasi ekspor yang lebih kuat dari ekspektasi pasar dan menjadi pertumbuhan tertinggi sejak September, terutama didorong oleh peningkatan ekspor ke negara-negara di luar Amerika Serikat. Pada saat yang sama, impor juga meningkat ke level tertinggi dalam hampir empat tahun. Secara keseluruhan, surplus perdagangan tetap solid dan tercatat sebagai yang tertinggi sejak Juni.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya |
|---|---|---|
| PDB ID | 5,04% | 5,12% |
| Inflasi ID | 2,92% | 2,72% |
| Suku Bunga ID | 4,75% | 4,75% |
| Penganggura | 4,85% | 4,76% |
| Neraca Dagang ID | $2,66 Bio | $2,4 Bio |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 20 Jan | CN - Interest Rate | 3,5% | 3,5% |
| 21 Jan | ID - Interest Rate | 4,75% | 4,75% |
| 22 Jan | US – GDP Growth Rate q/q | 3,7% | 2,1% |
| US – Initial Jobless Claim | 205k | 198k | |
| 23 Jan | JP – Interest Rate | 0,75% | 0,75% |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 13 Jan | US – Inflation Rate m/m | 0,3% | 0,3% | - |
| US – Inflation Rate y/y | 2,7% | 2,7% | 2,7% | |
| US – Core Inflation m/m | 0,2% | 0,3% | - | |
| US – Core Inflation y/y | 2,6% | 2,7% | 2,6% | |
| 14 Jan | CN – Trade Balance | $114,1 Bio | $113,5 Bio | $111,68 Bio |
| 15 Jan | US – Initial Jobless Claim | 198k | 208k | 208k |
Produk Fokus
| PROFIL RISIKO | ASSET CLASS | PRODUK INVESTASI | KINERJA* | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| DENOMINASI USD | 1 tahun | 1 bulan | 3 bulan | 6 bulan | YTD | ||
| Low To Medium | Fixed Income | Ashmore Dana USD Nusantara | 0,47% | 0,68% | 3,00% | -0,37% | 5,29% |
| Fixed Income | BNP Paribas Prima USD Kelas RK1 | 0,33% | 0,79% | 2,26% | -0,04% | 6,71% | |
| Fixed Income | BRI Melati Premium Dollar | 0,30% | 0,57% | 2,37% | -0,07% | 7,19% | |
| Fixed Income | Manulife USD Fixed Income Kelas A | -0,87% | -0,78% | -0,98% | 0,00% | 1,09% | |
| Fixed Income | Schroder USD Bond Class A | 0,34% | 0,55% | 1,85% | -0,02% | 6,38% | |
| Medium to High | Develop Market Equity | Allianz High Dividend Global Sharia Equity Dollar | 0,64% | 1,96% | 8,62% | 0,00% | 10,80% |
| Technology Equity | Batavia Technology Sharia Equity | -0,56% | 0,31% | 8,56% | 0,00% | 11,69% | |
| China Equity | BNP Paribas Greater China Equity Syariah USD RK1 | 0,91% | -5,06% | 13,44% | 0,00% | 28,73% | |
| Develop Market Equity | Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS | 3,41% | 12,00% | 23,90% | 0,00% | 32,12% | |
| China Equity | Eastspring Syariah Greater China Equity USD A | 1,93% | -4,29% | 14,95% | 0,00% | 24,30% | |
Produk Fokus
| PROFIL RISIKO | ASSET CLASS | PRODUK INVESTASI | KINERJA* | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| DENOMINASI RUPIAH | 1 tahun | 1 bulan | 3 bulan | 6 bulan | YTD | ||
| Low To Medium | Fixed Income | Ashmore Dana Obligasi Unggulan Nusantara | 0,62% | -0,97% | 1,29% | -0,24% | 3,49% |
| Fixed Income | Batavia Dana Obligasi Ultima | 0,43% | 0,03% | 1,71% | 0,16% | 3,75% | |
| Fixed Income | BNP Paribas Prima II Kelas RK1 | 0,88% | 1,97% | 4,72% | 0,16% | 9,11% | |
| Fixed Income | Maybank Dana Obligasi Negara | 0,42% | 0,93% | 2,49% | 0,14% | 4,35% | |
| Fixed Income | Manulife Obligasi Unggulan Kelas A | 0,23% | -0,56% | 0,65% | 0,16% | 1,70% | |
| Medium To High | Index Fund | Allianz SRI-KEHATI Index | 0,75% | 6,79% | 9,99% | -0,14% | 4,49% |
| All Cap Equity | Batavia Dana Saham Optimal | -0,91% | 2,82% | 5,61% | 0,62% | -2,42% | |
| Big Cap Equity | BNP Paribas Pesona Syariah | 1,88% | 8,01% | 12,42% | 0,94% | 12,54% | |
| SMC | BRI Mawar Fokus 10 | 7,60% | 17,17% | 28,45% | 2,86% | 25,24% | |
| All Cap Equity | Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A | -0,19% | 1,67% | 8,60% | 1,73% | 0,01% | |
| Index Equity | Maybank Financial Infobank15 Index Kelas N | -0,31% | 4,60% | 0,64% | -0,82% | -9,85% | |
| Big Cap Equity | Maybank Dana Ekuitas | 1,06% | 3,86% | 4,52% | 0,23% | -6,76% | |
| Index | Index Harga Saham Gabungan | 1,52% | 8,39% | 27,13% | 1,17% | 22,13% | |
*= NAV 2 Januari 2026
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)