11 Mei 2026

Domestik

Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 0,18% didorong oleh sektor infrastruktur dan sektor konsumen non-siklikal yang masing-masing menyumbang 5% dan 2,10% terhadap indeks. Investor asing malah melakukan aksi jual sebesar Rp3,61 triliun dalam sepekan terakhir. Menunjukkan kurangnya kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.

Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 yang lebih tinggi dari ekspektasi dan menjadi pertumbuhan tahunan terkuat sejak kuartal ketiga 2022, terutama didorong oleh konsumsi domestik. Di sisi inflasi, tekanan harga terus melandai dengan inflasi tahunan turun ke level terendah sejak Agustus tahun lalu dan masih berada dalam target Bank Indonesia, terutama karena kenaikan harga pangan dan perumahan yang lebih moderat. Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus, meskipun lebih rendah dari perkiraan pasar akibat ekspor yang melemah dan impor yang meningkat.

Di pasar keuangan, Rupiah sempat menyentuh level terlemah baru di Rp17.443,- per dolar AS sebelum kembali stabil di sekitar Rp17.373,-. Pelemahan ini dipengaruhi faktor musiman seperti pembayaran utang luar negeri dan musim pembagian dividen yang meningkatkan permintaan dolar AS. Meski demikian, intervensi pemerintah dan data ekonomi yang lebih solid membantu meredam tekanan. Yield obligasi pemerintah Indonesia juga mulai mengalami penurunan setelah sebelumnya naik tajam, seiring mulai meredanya tekanan pasar global.

Amerika

Pasar global masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik Iran dan negosiasi antara AS dan Iran. Meskipun gencatan senjata masih berlangsung, kedua pihak tetap melakukan serangan sehingga premi risiko global tetap tinggi. Aktivitas perdagangan di Selat Hormuz masih sangat terbatas dibanding kondisi normal sebelum konflik, sehingga pasar masih khawatir terhadap gangguan pasokan energi global.

AS dan Iran saat ini tengah membahas kerangka kesepakatan sementara berisi 13 poin yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan konflik militer. Namun, pasar masih melihat proses ini sangat rapuh karena bentrokan militer masih terus terjadi. Harga minyak Brent tetap tinggi di sekitar USD100 per barel dan masih sangat sensitif terhadap perkembangan berita geopolitik.

Secara keseluruhan, volatilitas pasar global masih tinggi dan selera risiko Investor cenderung terbatas. Dalam kondisi seperti ini, strategi investasi yang terdiversifikasi lintas aset, wilayah, dan mata uang tetap menjadi pendekatan utama. Investor juga cenderung lebih memilih aset berkualitas tinggi dan likuid sambil menunggu kepastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan meredanya premi risiko global.

Data ekonomi AS menunjukkan sektor jasa masih berada dalam zona ekspansi meskipun ISM Services PMI sedikit di bawah ekspektasi pasar. Klaim pengangguran mingguan juga masih relatif stabil walaupun meningkat dibanding minggu sebelumnya. Di sisi produktivitas, pertumbuhan Nonfarm Productivity pada kuartal pertama lebih lambat dari perkiraan, menunjukkan adanya moderasi pada efisiensi ekonomi. Dapat disimpulkan, pasar masih melihat ekonomi AS cukup resilien, namun ketidakpastian inflasi dan geopolitik membuat The Fed tetap berhati-hati. Imbal hasil obligasi AS juga masih bertahan tinggi, dengan tenor 2 tahun di sekitar 3,9% dan tenor 10 tahun di sekitar 4,4%, mencerminkan ekspektasi suku bunga yang mungkin tetap tinggi lebih lama.

Asia Pasifik

Kawasan Asia Pasifik pada pekan ini menunjukkan kondisi yang cukup beragam. Jepang masih mencatat surplus perdagangan, namun nilainya lebih rendah dari ekspektasi akibat impor yang tumbuh lebih cepat dibanding ekspor. Di sisi lain, tekanan inflasi masih bertahan seiring kenaikan harga energi global yang dipicu konflik Timur Tengah. Sementara itu, Kanada mencatat peningkatan kepercayaan bisnis dengan data PMI yang lebih kuat dari perkiraan, serta neraca perdagangan yang kembali surplus untuk pertama kalinya sejak September tahun lalu.

Secara umum, kawasan Asia Pasifik masih dipengaruhi oleh tingginya harga energi, ketidakpastian geopolitik global, serta arah kebijakan suku bunga global. Negara-negara yang bergantung pada impor energi masih menghadapi tekanan inflasi, sementara negara berbasis ekspor tetap diuntungkan oleh aktivitas perdagangan global yang relatif stabil. Investor di kawasan ini juga cenderung lebih berhati-hati sambil menunggu perkembangan konflik Iran dan dampaknya terhadap harga komoditas serta rantai pasok global.

Sumber : Refinitiv

Data Makro

  Data Makro Sekarang Sebelumnya
PDB ID 5,61% 5,39%
Inflasi ID 2,42% 3,48%
Suku Bunga ID 4,75% 4,75%
Pengangguran ID 4,85% 4,76%
Neraca Dagang ID $3,32 Bio $1,28 Bio

 

Kalender Ekonomi

 

Minggu Ini
Tanggal Indikator Ekonomi Data Konsensus Data Sebelumnya
11 Mei CN – Inflation m/m -0,1% -0,7%
CN – Inflation y/y 0,8% 1%
12 Mei US – Inflation m/m 0,6% 0,9%
US – Inflation y/y 3,4% 3,3%
US – Core Inflation m/m 0,4% 0,2%
US – Core Inflation y/y 2,6% 2,6%
14 Mei US – Retail Sales m/m 0,6% 1,7%
US – Retail Sales y/y 3,3% 4%

 

Minggu Sebelumnya
Tanggal Indikator Ekonomi Data Aktual Data Konsensus Data Sebelumnya
1 Mei US – ISM Manufacturing PMI 52,7 53 52,7
4 Mei ID – Inflation Rate m/m 0,13% 0,8% 0,41%
ID – Inflation Rate y/y 2,42% 3% 3,48%
ID – Core Inflation Rate y/y 2,44% 2,5% 2,52%
ID -  Trade Balance $3,32 Bio $4,2 Bio $1,28 Bio
5 Mei ID – GDP Growth Rate q/q -0,77% -0,95% 0,86%
ID – GDP Growth Rate y/y 5,61% 5,3% 5,39%
8 Mei US  – Non-farm payrolls 115k 73k 178k
US – Unemployment Rate 4,3% 4,3% 4,3%

Disclaimer on

Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.

PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)