02 Maret 2026

Domestik

Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar -0,44% didorong oleh sektor transportasi dan sektor infrastruktur yang masing-masing menyumbang -3,94% dan -3,08% terhadap indeks. Investor asing malah melakukan aksi beli sebesar Rp1,69 triliun dalam sepekan terakhir.

Jumlah uang beredar (M2) di Indonesia terus mencatat pertumbuhan tahunan dengan laju yang lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya, mencerminkan likuiditas domestik yang tetap terjaga. Dari sisi eksternal, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook Stabil. Keputusan ini menyusul langkah Moody's yang sebelumnya juga mempertahankan peringkat BBB namun menurunkan outlook menjadi Negatif. Dalam laporannya, Fitch menyoroti prospek pertumbuhan jangka menengah yang solid, rasio utang pemerintah yang relatif lebih rendah dibandingkan negara peers, permintaan domestik yang resilien, serta kebijakan moneter yang proaktif sebagai faktor pendukung stabilitas.

Meski demikian, komitmen pemerintah untuk menjaga defisit fiskal tetap dalam batas 3% dinilai krusial. S&P Global Ratings juga menyampaikan perhatian serupa terkait stabilitas fiskal, walaupun belum mengubah peringkat maupun outlook Indonesia yang masih stabil.

Menjelang tenggat evaluasi dari MSCI pada bulan Mei, pasar terus memantau implementasi reformasi pasar modal, termasuk rencana publikasi data pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1%, perluasan klasifikasi investor dari 9 menjadi 28 kategori, serta peningkatan persyaratan free float menjadi 15% pada akhir Maret. Reformasi ini dipandang penting untuk meningkatkan transparansi dan daya tarik investasi di pasar modal Indonesia.

Secara keseluruhan, pasar domestik masih sensitif terhadap berita utama, namun arus dana asing ke pasar saham menunjukkan penguatan pada pekan ini. Preferensi terhadap saham dengan fundamental kuat tetap dominan, sementara obligasi pemerintah Indonesia yang likuid menjadi pilihan utama dalam portofolio pendapatan tetap. Dalam kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan, diversifikasi lintas aset dan lintas negara tetap menjadi strategi utama, sekaligus membuka peluang bagi pengelola investasi aktif untuk menangkap peluang di tengah volatilitas

Amerika

Indikator kepercayaan konsumen AS pada pekan ini tercatat lebih kuat dari perkiraan, mencerminkan optimisme rumah tangga yang tetap terjaga. Sementara itu, klaim pengangguran awal mingguan berada di bawah ekspektasi meskipun sedikit meningkat dibandingkan pekan sebelumnya, mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif stabil. Di pasar keuangan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun di bawah 4,05% untuk pertama kalinya tahun ini, seiring meningkatnya minat terhadap aset safe haven dan kekhawatiran terhadap valuasi sektor kecerdasan buatan (AI). Secara umum, lingkungan imbal hasil yang lebih rendah masih mendukung aset berisiko, namun volatilitas tetap tinggi karena pasar sangat responsif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan perdagangan.

Asia Pasifik

Penjualan ritel tahunan Jepang meningkat secara tak terduga dan mencatat pertumbuhan terkuat sejak Juni, didorong oleh dampak stimulus fiskal terbaru. Di sisi lain, produksi industri bulanan tetap tumbuh, namun dengan laju yang lebih lambat dari perkiraan, menunjukkan bahwa momentum sektor manufaktur masih terbatas.

Sumber : Refinitiv

Data Makro

  Data Makro Sekarang Sebelumnya
PDB ID 5,04% 5,12%
Inflasi ID 3,55% 2,92%
Suku Bunga ID 4,75% 4,75%
Pengangguran ID 4,85% 4,76%
Neraca Dagang ID $2,52 Bio $2,66 Bio

 

Kalender Ekonomi

 

Minggu Ini
Tanggal Indikator Ekonomi Data Konsensus Data Sebelumnya
02-Mar ID – Inflation Rate m/m 0% -0,15%
ID – Inflation Rate y/y 4% 3,55%
ID – Core Inflation Rate y/y 2,5% 2,45%
ID -  Trade Balance $2,76 Bio $2,52 Bio
US – ISM Manufacturing PMI 52,3 52,6
04-Mar CN – RatingDog PMI 50,1 50,3
CN – NBS Manufacturing PMI 49,1 49,3
06-Mar US  – Non-farm payrolls 60k 130k
US – Unemployment Rate 4,3% 4,3%

 

Minggu Sebelumnya
Tanggal Indikator Ekonomi Data Aktual Data Konsensus Data Sebelumnya
24-Feb CN – Interest Rate 3,5% 3,5% 3,5%

Disclaimer on

Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.

PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)