02 Februari 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar -10,86% didorong oleh sektor industri dan sektor infrastruktur yang masing-masing menyumbang -14,85% dan -12,91% terhadap indeks. Investor asing juga melakukan aksi jual sebesar Rp15,77 triliun dalam sepekan terakhir.
Indonesia tidak merilis data makroekonomi utama pada pekan ini. Namun demikian, pasar keuangan domestik justru mengalami volatilitas yang sangat tinggi, terutama di pasar saham, menyusul pengumuman terbaru dari MSCI. Pasar sebelumnya telah mengantisipasi adanya pembaruan dari MSCI, namun hasil yang disampaikan jauh lebih negatif dari ekspektasi, di mana tidak ada saham Indonesia baru yang masuk ke dalam indeks MSCI serta tidak adanya peningkatan klasifikasi dari Small Cap ke Standard Cap. Lebih jauh lagi, muncul risiko bahwa Indonesia berpotensi diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Frontier Market apabila tidak ada perbaikan signifikan hingga bulan Mei mendatang.
Ancaman ini dinilai sangat serius karena berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar jika benar-benar terealisasi. Kekhawatiran utama MSCI berfokus pada aspek transparansi kepemilikan saham terkait free float, serta pola perdagangan yang dinilai mengganggu proses pembentukan harga yang wajar. Dampak langsung terhadap pasar saham Indonesia terlihat jelas, dengan terjadinya dua kali trading halt berturut-turut setelah indeks utama mengalami koreksi harian hingga sekitar 8%. Saham-saham yang sebelumnya diharapkan mendapat manfaat dari potensi masuk indeks global mengalami tekanan paling besar.
Meski koreksi yang terjadi menyerupai kondisi krisis seperti tahun 2008, 2011, atau 2020, saat ini Indonesia tidak berada dalam fase krisis ekonomi. Secara historis, pasar saham cenderung mengalami pemulihan dalam kurun waktu sekitar tiga bulan setelah penurunan tajam. Kami menilai bahwa penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market tidak sepenuhnya beralasan, mengingat Indonesia masih unggul dibandingkan negara Frontier lainnya dari sisi PDB nominal, PDB per kapita, stabilitas makroekonomi, serta kapitalisasi pasar.
Menanggapi urgensi situasi ini, otoritas Indonesia mulai mengambil langkah yang lebih proaktif melalui diskusi intensif dan komunikasi publik terkait rencana perbaikan. Upaya tersebut mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham, pengetatan persyaratan minimum free float bagi perusahaan tercatat, percepatan proses demutualisasi bursa, serta peningkatan peran Investor institusi domestik untuk memperbaiki likuiditas pasar. Meski diperlukan dukungan regulasi formal untuk memastikan implementasi berjalan efektif, pasar mulai melihat sinyal positif dari keterlibatan aktif otoritas. Risiko utama tetap berada pada sisi eksekusi dan ketepatan waktu dalam menerapkan kebijakan-kebijakan tersebut.
The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan pertama tahun ini, sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, terdapat dua anggota dewan yang memberikan suara berbeda dengan mendorong pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps. Bank sentral menilai bahwa pertumbuhan ekonomi AS masih berjalan pada kecepatan yang solid, namun tetap menegaskan akan terus menyeimbangkan berbagai risiko sebelum melakukan perubahan kebijakan suku bunga ke depan. Dari sisi data ekonomi, pesanan barang tahan lama (durable goods orders) pada bulan November tercatat meningkat lebih tinggi dari perkiraan, terutama didorong oleh lonjakan pesanan di sektor peralatan transportasi. Di sisi lain, defisit perdagangan AS melebar lebih besar dari ekspektasi, seiring dinamika kebijakan tarif yang masih berubah-ubah dan belum memberikan kepastian bagi pelaku ekonomi.
Jepang mencatat tren peningkatan berkelanjutan pada tingkat kepercayaan konsumen, yang kini mencapai level tertinggi sejak April 2024. Seluruh komponen utama indeks kepercayaan menunjukkan perbaikan, mencerminkan pandangan konsumen yang semakin optimistis terhadap kondisi ekonomi ke depan. Namun demikian, tingkat pengangguran masih bertahan di level tertinggi sejak Juli 2024, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja belum sepenuhnya pulih.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya |
|---|---|---|
| PDB ID | 5,04% | 5,12% |
| Inflasi ID | 2,92% | 2,72% |
| Suku Bunga ID | 4,75% | 4,75% |
| Pengangguran | 4,85% | 4,76% |
| Neraca Dagang ID | $2,66 Bio | $2,4 Bio |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 02-Feb | ID – Inflation Rate m/m | 0,3% | 0,64% |
| ID – Inflation Rate y/y | 3,8% | 2,92% | |
| ID – Core Inflation Rate y/y | 2,37% | 2,38% | |
| US – ISM Manufacturing PMI | 48,3 | 47,9 | |
| CN – RatingDog PMI | 50,3 | 50,1 | |
| 03-Feb | US – JOLTs Job Openings | 7,1M | 7,146M |
| 05-Feb | ID – GDP Growth Rate q/q | 1,9% | 1,43% |
| ID – GDP Growth Rate y/y | 5,2% | 5,04% | |
| ID – Full Year GDP Growth | 5% | 5,03% | |
| 06-Feb | US – Non-farm payrolls | 70k | 50k |
| US – Unemployment Rate | 4,4% | 4,4% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 29-Jan | US – Interest Rate | 3,75% | 3,75% | 3,75% |
| US – Initial Jobless Claim | 209k | 205k | 200k | |
| 31-Jan | CN – NBS Manufacturing PMI | 49,3 | 50,2 | 50,1 |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)