18 Mei 2026

Domestik

Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar 5,20% didorong oleh sektor kesehatan dan sektor energi yang masing-masing menyumbang -5,69% dan -3,59% terhadap indeks. Investor asing juga melakukan aksi jual sebesar Rp2,79 triliun dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Menunjukkan kurangnya kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik. 

Kepercayaan konsumen Indonesia naik tipis dengan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang sedikit membaik. Namun, penjualan ritel melambat ke level terlemah sejak Juni 2025 akibat tekanan biaya yang lebih tinggi. Di sisi pasar keuangan, Rupiah kembali melemah hingga menembus level Rp17.500,- per dolar AS akibat ketidakpastian global serta faktor musiman seperti pembayaran dividen dan utang luar negeri. Pemerintah dan Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Di pasar saham, MSCI resmi mengumumkan rebalancing indeks Indonesia yang akan berlaku efektif akhir Mei. Beberapa saham dikeluarkan dari indeks Standard Cap dan Small Cap, sementara pasar kini menunggu evaluasi berikutnya pada Agustus mendatang. Meski demikian, risiko penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market tidak terjadi, sehingga menjadi sentimen positif bagi pasar domestik.

Amerika

Pasar global masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik Iran dan kondisi Selat Hormuz. Meskipun gencatan senjata masih berlangsung, pasar melihat situasi tetap rapuh dan memperkirakan konflik dapat berlangsung lebih lama. Hal ini menjaga premi risiko global tetap tinggi dan mendorong ekspektasi inflasi meningkat, terutama akibat harga energi yang masih tinggi.

Volatilitas pasar tetap tinggi dan pergerakan aset masih sangat sensitif terhadap headline berita geopolitik maupun arah kebijakan bank sentral. Dalam kondisi seperti ini, Investor cenderung mempertahankan likuiditas tinggi dan diversifikasi portofolio, sambil lebih selektif terhadap aset yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik.

Amerika Serikat merilis data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar, di mana inflasi umum mencapai level tertinggi sejak Mei 2023 akibat lonjakan harga energi. Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga meningkat ke level tertinggi sejak September, didorong oleh kenaikan harga jasa dan perumahan. Di sisi properti, penjualan rumah meningkat tipis namun masih berada di bawah ekspektasi akibat kenaikan suku bunga KPR seiring naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Pasar juga mulai fokus pada perubahan kepemimpinan The Fed setelah Senat AS menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya sebelum masa jabatan Powell berakhir. Data inflasi yang lebih tinggi membuat pasar semakin mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini, bahkan mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga kembali. Investor kini memperhatikan arah kebijakan Ketua The Fed yang baru, terutama terkait independensi bank sentral, risiko inflasi, dan arah kebijakan suku bunga ke depan.

Asia Pasifik

Tiongkok mencatat kenaikan inflasi yang berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan disinflasi. Kenaikan harga terutama berasal dari biaya transportasi yang terdampak lonjakan harga energi global. Di sisi produsen, Producer Price Index (PPI) melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2022 dan menjadi bulan kedua berturut-turut dengan kenaikan harga yang semakin tinggi.

Jepang mencatat surplus transaksi berjalan yang meningkat ke level tertinggi karena pertumbuhan ekspor lebih kuat dibanding impor. Namun, konsumsi domestik masih melemah dengan belanja rumah tangga turun lebih dalam dari perkiraan dan menjadi penurunan selama empat bulan berturut-turut di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.

Sumber : Refinitiv

Data Makro

  Data Makro Sekarang Sebelumnya
PDB ID 5,61% 5,39%
Inflasi ID 2,42% 3,48%
Suku Bunga ID 4,75% 4,75%
Pengangguran ID 4,85% 4,76%
Neraca Dagang ID $3,32 Bio $1,28 Bio

 

Kalender Ekonomi

 

Minggu Ini
Tanggal Indikator Ekonomi Data Konsensus Data Sebelumnya
18 Mei CN –Retail Sales 2% 1,7%
CN – Unemployment Rate 5,3% 5,4%
20 Mei CN – Interest Rate 3,5% 3,5%
ID – Interest Rate 4,75% 4,75%
22 Mei ID – Current Account -$0,8 Bio -$2,5 Bio

 

Minggu Sebelumnya
Tanggal Indikator Ekonomi Data Aktual Data Konsensus Data Sebelumnya
11 Mei CN – Inflation m/m 0,3% -0,1% -0,7%
CN – Inflation y/y 1,2% 0,8% 1%
12 Mei US – Inflation m/m 0,6% 0,6% 0,9%
US – Inflation y/y 3,8% 3,4% 3,3%
US – Core Inflation m/m 0,4% 0,4% 0,2%
US – Core Inflation y/y 2,8% 2,6% 2,6%
14 Mei US – Retail Sales m/m 0,5% 0,6% 1,7%
US – Retail Sales y/y 4,9% 3,3% 4%

Disclaimer on

Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.

PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)