27 April 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar 6,61% didorong oleh sektor energi dan sektor properti yang masing-masing menyumbang -8,15% dan -6,30% terhadap indeks. Investor asing malah masih melakukan aksi jual sebesar Rp5,05 triliun dalam sepekan terakhir. Menunjukkan kurangnya kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.
Di Indonesia, perkembangan reformasi pasar modal mulai mendapatkan pengakuan dari MSCI, yang kini berfokus pada evaluasi implementasi dan konsistensi kebijakan. Data konsentrasi kepemilikan saham (High Shareholder Concentration) yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia akan digunakan dalam peninjauan indeks berikutnya. Tidak adanya indikasi penurunan klasifikasi pasar Indonesia menjadi Frontier Market menjadi sinyal positif bagi Investor.
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar, dengan fokus utama pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global yang meningkat. Likuiditas domestik tetap terjaga, tercermin dari pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) yang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, nilai tukar Rupiah mengalami tekanan dan sempat melemah hingga menembus level 17.300 per dolar AS, dipengaruhi oleh penguatan dolar global serta meningkatnya risiko geopolitik.
Pasar global pada pekan ini masih didominasi oleh pergerakan berbasis berita (headline-driven) dan cenderung berhati-hati. Perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran memberikan waktu tambahan untuk negosiasi, namun belum mampu meredakan kekhawatiran pasar secara signifikan. Gangguan di Selat Hormuz masih terjadi, menjaga premi risiko tetap tinggi dan mendorong harga minyak naik kembali, dengan Brent melampaui USD105 per barel. Di sisi lain, dolar AS menguat dengan indeks DXY mendekati level 99, sementara selera risiko Investor cenderung defensif.
Data ekonomi AS menunjukkan aktivitas konsumsi yang tetap kuat, di mana penjualan ritel tumbuh di atas ekspektasi dan mencapai laju tertinggi sejak Maret 2025, didorong oleh kenaikan harga bensin. Di sisi lain, klaim pengangguran awal sedikit lebih tinggi dari perkiraan, namun masih menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Aktivitas bisnis juga menunjukkan ketahanan, dengan PMI komposit yang tetap berekspansi meskipun sebelumnya diperkirakan akan terkontraksi, didorong oleh peningkatan aktivitas manufaktur karena perusahaan menambah persediaan di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dan kenaikan harga.
Jepang masih mencatat surplus perdagangan, namun nilainya lebih rendah dari perkiraan karena kenaikan impor yang lebih tinggi dari ekspektasi. Di sisi inflasi, tekanan harga meningkat sesuai perkiraan, terutama didorong oleh kenaikan harga energi.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,39% | 5,04% | |
| Inflasi ID | 4,76% | 3,55% | |
| Suku Bunga ID | 4,75% | 4,75% | |
| Pengangguran ID | 4,85% | 4,76% | |
| Neraca Dagang ID | $0,95 Bio | $2,52 Bio | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 28-Apr | JP – Interest Rate | 0,75% | 0,75% |
| 30-Apr | US – Interest Rate | 3,75% | 3,75% |
| CN – NBS Manufacturing PMI | 50,2 | 50,4 | |
| CN – RatingDog Manufacturing PMI | 50,5 | 50,8 | |
| US – Core PCE Price Index m/m | 0,3% | 0,4% | |
| US – Core PCE Price Index y/y | 3,1% | 0 | |
| US – GDP Growth Rate q/q Adv | 2,1% | 0,5% | |
| EU – Interest Rate | 2,15% | 2,15% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 20-Apr | CN – Interest Rate | 3,5% | 3,5% | 3,5% |
| 22-Apr | ID – Interest Rate | 4,75% | 4,75% | 4,75% |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)