13 April 2026

Domestik

Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 6,14% didorong oleh sektor kebutuhan pokok dan sektor konsumsi siklikal yang masing-masing menyumbang 12,44% dan 10,97% terhadap indeks. Investor asing malah masih melakukan aksi jual sebesar Rp4,45 triliun dalam sepekan terakhir. Menunjukkan kurangnya kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.

Kepercayaan konsumen Indonesia melanjutkan tren penurunan sejak puncaknya pada Januari, meskipun masih lebih baik dari ekspektasi pasar. Cadangan devisa juga menurun ke level terendah sejak Juli 2024, terutama karena intervensi bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang sempat melemah hingga mendekati level 17.000 per dolar AS. Otoritas domestik terus mendorong reformasi pasar modal, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham dan konsentrasi Investor, meskipun pelaku pasar masih menunggu respons resmi dari penyedia indeks global terhadap upaya tersebut.

Amerika

Pasar global sempat merespons positif kabar gencatan senjata dengan penurunan harga minyak dari atas USD115 per barel ke bawah USD95, namun harga kembali naik mendekati USD100 karena Selat Hormuz masih belum sepenuhnya beroperasi. Biaya logistik dan asuransi yang tetap tinggi akibat konflik menjaga harga energi tetap elevated. Imbal hasil obligasi AS juga tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik, dengan yield tenor 10 tahun berada di kisaran 4,3% dan tenor 2 tahun sekitar 3,8%.

Secara keseluruhan, meskipun terdapat harapan dari upaya gencatan senjata, kekhawatiran terhadap inflasi dan gangguan rantai pasok global masih membayangi pasar. Ke depan, perhatian Investor akan tertuju pada perkembangan negosiasi damai serta normalisasi aktivitas di Selat Hormuz. Dalam kondisi ini, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dan pendekatan investasi yang defensif dengan fokus pada aset likuid dan berkualitas tinggi serta diversifikasi portofolio tetap menjadi strategi utama.

Aktivitas sektor jasa AS masih berada dalam fase ekspansi, meskipun lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya, terutama dipengaruhi kekhawatiran terhadap potensi konflik berkepanjangan di Iran. Indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu Core PCE, tercatat sesuai ekspektasi pada Februari, menunjukkan tekanan harga yang relatif stabil. Namun, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 kembali direvisi turun dan menjadi yang terlemah sejak kontraksi pada awal tahun, terutama akibat revisi penurunan pada investasi, yang mencerminkan mulai melemahnya momentum ekonomi.

Asia Pasifik

Inflasi tahunan Tiongkok melambat dibandingkan bulan sebelumnya dan berada di bawah ekspektasi, terutama akibat kenaikan harga pangan yang lebih moderat. Di sisi lain, harga produsen (PPI) mencatat kenaikan untuk pertama kalinya sejak September 2022, didorong oleh lonjakan harga energi, yang dapat menjadi indikasi awal meningkatnya tekanan biaya di sektor industri.

Kepercayaan konsumen di Jepang menurun ke level terendah sejak Mei tahun lalu, mencerminkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi. Selain itu, belanja rumah tangga kembali mengalami kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut, dipengaruhi oleh tekanan harga yang masih tinggi dan melemahkan daya beli masyarakat.

Sumber : Refinitiv

Data Makro

  Data Makro Sekarang Sebelumnya
PDB ID 5,39% 5,04%
Inflasi ID 4,76% 3,55%
Suku Bunga ID 4,75% 4,75%
Pengangguran ID 4,85% 4,76%
Neraca Dagang ID $0,95 Bio $2,52 Bio

 

Kalender Ekonomi

 

Minggu Ini
Tanggal Indikator Ekonomi Data Konsensus Data Sebelumnya
14-Apr CN –Trade Balance $112 Bio $90,98 Bio
16-Apr CN – GDP Growth Rate q/q 1,4% 1,2%
CN – GDP Growth Rate y/y 5% 4,5%
CN – Unemployment Rate 5,2% 5,3%

 

Minggu Sebelumnya
Tanggal Indikator Ekonomi Data Aktual Data Konsensus Data Sebelumnya
09-Apr US – Core PCE Price Index m/m 0,4% 0,4% 0,4%
US – Core PCE Price Index y/y 3% 3% 3,1%
US – GDP Growth Rate q/q Final 0,5% 0,7% 4,4%
10-Apr CN – Inflation m/m -0,7% 0,2% 1%
CN – Inflation y/y 1% 1,2% 1,3%
US – Inflation m/m 0,9% 0,9% 0,3%
US – Inflation y/y 3,3% 3,4% 2,4%
US – Core Inflation m/m 0,2% 0,3% 0,2%
US – Core Inflation y/y 2,6% 2,7% 2,5%

Disclaimer on

Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.

PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)