30 Maret 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar -0,14% didorong oleh sektor kebutuhan pokok dan sektor teknologi yang masing-masing menyumbang -2,84% dan -0,86% terhadap indeks. Investor asing juga melakukan aksi jual sebesar Rp3,44 triliun dalam sepekan terakhir.
Likuiditas domestik tetap terjaga dengan pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) yang masih positif secara tahunan, meskipun mengalami sedikit perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, pasar domestik cenderung mengikuti dinamika eksternal, khususnya terkait pergerakan harga energi dan sentimen risiko global.
Perkembangan utama pasar global masih didominasi oleh konflik di Iran. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan sikap yang tegas dengan mempertahankan penutupan Selat Hormuz serta menyerukan serangan terhadap basis militer AS di kawasan. Di sisi lain, Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, yang sempat meredakan pasar sebelum kembali memicu ketidakpastian. Penundaan ini bersifat sementara hingga batas waktu awal April, dan tidak menutup kemungkinan eskalasi lanjutan.
Harga minyak sempat turun setelah pengumuman tersebut, namun kembali naik ke atas USD 95 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan yang berkepanjangan. Selain itu, OECD juga merevisi proyeksi inflasi AS lebih tinggi menjadi sekitar 4,2% pada 2026 akibat dampak konflik ini. Secara keseluruhan, sentimen pasar global masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, dengan risiko inflasi dan gangguan rantai pasok menjadi faktor utama.
Aktivitas manufaktur AS menunjukkan ekspansi yang lebih kuat, didorong oleh meredanya tekanan tarif serta kekhawatiran terhadap konflik Iran yang mendorong aksi penimbunan (stockpiling). Sebaliknya, sektor jasa mengalami perlambatan dan mencatat pertumbuhan terlemah sejak April tahun lalu. Data klaim pengangguran mingguan relatif sesuai ekspektasi, namun bertolak belakang dengan sinyal pelemahan dari laporan ketenagakerjaan sebelumnya. Dari sisi pasar, meningkatnya ketegangan geopolitik turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dengan yield tenor 10 tahun naik di atas 4,4% seiring kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi. Meskipun muncul spekulasi potensi kenaikan suku bunga, pernyataan terbaru dari Ketua The Fed Jerome Powell belum mengindikasikan arah kebijakan yang lebih hawkish.
Inflasi di Jepang terus menunjukkan tren penurunan, dengan inflasi utama dan inti turun ke level terendah sejak Maret 2022. Kondisi ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang berhasil menekan biaya hidup, sehingga tekanan harga di dalam negeri tetap terkendali meskipun lingkungan global masih tidak pasti.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,39% | 5,04% | |
| Inflasi ID | 4,76% | 3,55% | |
| Suku Bunga ID | 4,75% | 4,75% | |
| Pengangguran ID | 4,85% | 4,76% | |
| Neraca Dagang ID | $0,95 Bio | $2,52 Bio | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 31-Mar | CN – NBS Manufacturing PMI | 50 | 49 |
| US – JOTLs Job Opening | 6,85 Mio | 6,946 Mio | |
| 01-Apr | ID – Inflation Rate m/m | 0,3% | 0,68% |
| ID – Inflation Rate y/y | 4,9% | 4,76% | |
| ID – Core Inflation Rate y/y | 2,5% | 2,63% | |
| ID - Trade Balance | $1,2 Bio | $0,96 Bio | |
| US – ISM Manufacturing PMI | 52,3 | 52,4 | |
| CN – RatingDog PMI | 51,9 | 52,1 | |
| 03-Apr | US – Non-farm payrolls | 48k | -92k |
| US – Unemployment Rate | 4,5% | 4,4% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 17-Mar | ID – Interest Rate | 4,75% | 4,75% | 4,75% |
| 19-Mar | US – Interest Rate | 3,75% | 3,75% | 3,75% |
| JP – Interest Rate | 0,75% | 0,75% | 0,75% | |
| EU – Interest Rate | 2,15% | 2,15% | 2,15% | |
| 20-Mar | CN – Interest Rate | 3,5% | 3,5% | 3,5% |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)