7 September 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 1,8%, didorong oleh sektor industri dan energi yang masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 6,53% dan 4,51%. Investor asing juga kembali mencatatkan aksi beli bersih sekitar Rp370,87 miliar setelah sebelumnya arus dana asing cenderung keluar dari pasar domestik. Kembalinya foreign inflow di tengah penyesuaian indeks MSCI menunjukkan sentimen Investor asing terhadap Indonesia mulai membaik, meskipun satu minggu belum cukup untuk membentuk tren.
Sentimen domestik juga mendapat dukungan dari selesainya transisi kepemimpinan Bank Indonesia setelah Destry Damayanti mendapat persetujuan pada awal September, sehingga salah satu sumber ketidakpastian pasar berkurang. Namun, kembali meningkatnya tensi di Selat Hormuz mendorong harga minyak naik sekitar 7% ke sekitar US$95/barel, sementara data tenaga kerja AS yang kuat turut mendorong yield global lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat yield SBN 10 tahun kembali naik ke sekitar 7,12%, sehingga pasar obligasi masih berpotensi volatile dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, kembalinya aliran dana asing dan kondisi Rupiah yang relatif stabil menjadi faktor pendukung bagi aset domestik. Namun, risiko dari kenaikan harga minyak, inflasi, serta volatilitas yield AS tetap perlu diperhatikan. Dalam kondisi tersebut, saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi tetap dapat menjadi pilihan, disertai obligasi berkualitas untuk menjaga stabilitas portofolio.
Data tenaga kerja AS menunjukkan ekonomi masih cukup kuat. Non-farm Payrolls Agustus bertambah 162 ribu, jauh di atas konsensus 45 ribu dan membaik dari 21 ribu sebelumnya, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%, lebih rendah dari ekspektasi 4,2%. Data tersebut kembali meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan yang ketat lebih lama, sehingga yield Treasury sempat naik tajam dan memberikan tekanan terhadap aset yang sensitif terhadap suku bunga.
Minggu ini perhatian Investor akan beralih ke data inflasi AS. CPI diperkirakan naik 0,4% MoM dari 0,1% sebelumnya dan bertahan di 3,4% YoY, sementara inflasi inti diperkirakan melambat menjadi 2,4% YoY dari 2,5%. Inflasi yang tetap tinggi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, sementara angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat membantu meredakan tekanan yield menjelang keputusan The Fed berikutnya.
Pasar Asia bergerak beragam seiring meningkatnya kembali volatilitas global. Jepang dan Korea masing-masing melemah sekitar 2,1% dan 1,5%, sementara Hong Kong mencatatkan penguatan tipis. Di Jepang, kepercayaan konsumen membaik tetapi belanja rumah tangga masih terkontraksi, menunjukkan sentimen konsumen belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi konsumsi yang lebih kuat. Kenaikan harga minyak dan yield AS juga kembali menjadi risiko bagi pasar Asia yang sensitif terhadap biaya energi dan pendanaan global.
Data ekonomi Tiongkok menunjukkan sinyal perbaikan, dengan PMI manufaktur naik menjadi 51,5 dan PMI jasa menjadi 51,4, keduanya berada di atas ekspektasi dan menunjukkan aktivitas ekonomi kembali berekspansi lebih cepat. Perbaikan tersebut menjadi sentimen positif bagi kawasan, termasuk Indonesia sebagai salah satu mitra dagang utama Tiongkok, meskipun pasar saham Tiongkok masih bergerak volatile.
Minggu ini pasar akan mencermati neraca perdagangan Tiongkok yang diperkirakan meningkat menjadi US$120,1 miliar dari US$112,5 miliar, serta inflasi yang diperkirakan naik menjadi 0,9% YoY dari 0,5% sebelumnya. Data yang membaik dapat memperkuat keyakinan bahwa aktivitas ekonomi mulai pulih, sementara inflasi yang masih rendah tetap menunjukkan bahwa permintaan domestik belum sepenuhnya kuat.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,29% | 5,61% | |
| Inflasi ID | 3,19% | 2,88% | |
| Suku Bunga ID | 5,75% | 5,75% | |
| Pengangguran ID | 4,65% | 4,68% | |
| Neraca Dagang ID | US$0,13B | -US$0,45B | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 7 September | ID – Foreign Exchange Reserves | - | US$145,3B |
| 8 September | CN – Trade Balance | US$120,1B | US$112,5B |
| 9 September | CN – Inflation m/m | 0,2% | -0,1% |
| CN – Inflation y/y | 0,9% | 0,5% | |
| 11 September | US – Inflation m/m | 0,4% | 0,1% |
| US – Inflation y/y | 3,4% | 3,4% | |
| US – Core Inflation m/m | 0,2% | 0,2% | |
| US – Core Inflation y/y | 2,4% | 2,5% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 1 September | US – ISM Manufacturing PMI | 54,6 | 55,3 | 55,6 |
| ID – Inflation Rate m/m | 0,21% | 0,2% | -0,14% | |
| ID – Inflation Rate y/y | 3,19% | 3,13% | 2,88% | |
| ID – Core Inflation Rate y/y | 2,92% | 2,8% | 2,76% | |
| ID – Trade Balance | US$0,13B | -US$0,6B | -US$0,45B | |
| 4 September | US – Non-farm Payrolls | 162K | 45K | -23K |
| US – Unemployment Rate | 4,1% | 4,2% | 4,1% | |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)