18 Agustus 2026

Domestik

Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 0,78%, didorong oleh sektor transportasi & logistik serta infrastruktur yang masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 5,19% dan 2,97%. Investor asing malah melakukan aksi jual bersih sebesar sekitar Rp1,140 triliun dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG belum sepenuhnya diikuti oleh arus dana Investor asing.

Di pasar domestik, optimisme yang memudar terhadap kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz membuat harga minyak kembali meningkat, sehingga risiko inflasi impor dan tekanan terhadap Rupiah kembali menjadi perhatian. Di sisi lain, pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia dipandang pasar sebagai sinyal keberlanjutan kebijakan, membantu Rupiah menguat ke sekitar Rp17.825,-/USD dan yield obligasi pemerintah 10 tahun turun sekitar 10 bps menjadi 7,18%. Sentimen saham juga dipengaruhi oleh hasil tinjauan MSCI Agustus yang mengeluarkan dua perusahaan Indonesia dari indeks utama dan sembilan perusahaan dari indeks small-cap tanpa adanya penambahan baru.

Secara keseluruhan, meningkatnya kepastian terkait kepemimpinan Bank Indonesia memberikan dukungan terhadap Rupiah dan pasar obligasi domestik. Namun, kenaikan kembali harga minyak, arus keluar dana asing, dan penyesuaian indeks MSCI masih menjadi sumber volatilitas bagi pasar saham. Dalam kondisi tersebut, saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan valuasi menarik tetap dapat menjadi pilihan, disertai obligasi berkualitas sebagai sumber pendapatan yang stabil. Diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah investasi tetap penting untuk menghadapi ketidakpastian pasar.

Amerika

Inflasi AS pada Juli mulai menunjukkan perbaikan. Inflasi tercatat 0,1% MoM, sesuai konsensus, sementara inflasi tahunan melandai menjadi 3,4% YoY dari 3,5% sebelumnya. Inflasi inti juga turun menjadi 2,5% YoY dari 2,6%, sesuai ekspektasi pasar. Di sisi lain, retail sales melemah, turun 0,6% MoM, dibandingkan dengan ekspektasi kenaikan 0,1%. Kombinasi inflasi yang lebih rendah dan konsumsi yang melemah mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga, meskipun juga menunjukkan bahwa momentum ekonomi AS mulai melambat.

Pasar juga mencermati pelemahan data tenaga kerja serta kenaikan kembali harga minyak. Negosiasi terkait Selat Hormuz yang kembali terhambat mendorong harga Brent naik mendekati US$88 per barel, sehingga berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi apabila bertahan lebih lama. Kondisi ini menempatkan The Fed dalam posisi yang cukup sulit: inflasi mulai melandai dan pasar tenaga kerja melemah, tetapi kenaikan harga energi dapat menghambat proses penurunan inflasi.

Asia Pasifik

Di Tiongkok, tekanan harga kembali melemah dengan inflasi yang turun menjadi 0,5% YoY dari 1,0%, lebih rendah dari konsensus 0,8%. Producer price inflation juga melandai menjadi 3,5% dari 4,1%, di bawah konsensus 3,8%, menunjukkan bahwa permintaan domestik dan kemampuan perusahaan menaikkan harga masih relatif lemah. Kondisi tersebut meningkatkan perhatian terhadap dukungan kebijakan pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Sumber : Refinitiv

Data Makro

  Data Makro Sekarang Sebelumnya
PDB ID 5,29% 5,61%
Inflasi ID 2,88% 3,34%
Suku Bunga ID 5,75% 5,75%
Pengangguran ID 4,65% 4,68%
Neraca Dagang ID $-0,45 Bio $-1,61 Bio

 

Kalender Ekonomi

 

Minggu Ini
Tanggal Indikator Ekonomi Data Konsensus Data Sebelumnya
19 Agustus ID – Interest Rate 5,75% 5,75%
20 Agustus CN – Interest Rate 3,00% 3,00%

 

Minggu Sebelumnya
Tanggal Indikator Ekonomi Data Aktual Data Konsensus Data Sebelumnya
12 Agustus US - Inflation Rate m/m 0,1% 0,1% -0,4%
US - Inflation Rate y/y 3,4% 3,4% 3,5%
US - Core Inflation Rate m/m 0,2% 0,2% 0,0%
US - Core Inflation Rate y/y 2,5% 2,5% 2,6%
14 Agustus US - Retail Sales m/m -0,6% 0,1% 0,2%
US - Retail Sales y/y 5,0% 6,0% 6,7%
17 Agustus CN - Retail Sales y/y 0,6% 1,5% 1,0%
CN - Unemployment Rate 5,2% 5,1% 5,0%

Disclaimer on

Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.

PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)