10 Agustus 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 2,78% ke level 6.409,65, didukung oleh sektor barang baku dan energi yang masing-masing menguat 6,43% dan 4,60%. Investor asing malah mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp457,18 miliar selama lima hari terakhir di pasar reguler. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan indeks belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.
Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II 2026, sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 5,3% dan melambat dari 5,61% pada kuartal sebelumnya. Pada saat yang sama, Indonesia mencatat deflasi bulanan sebesar 0,14%, dibandingkan ekspektasi inflasi 0,1% dan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,44%. Inflasi tahunan menurun menjadi 2,88% dari 3,34%, sementara inflasi inti tetap stabil di 2,76%. Pertumbuhan yang tetap solid dan inflasi yang lebih terkendali memberikan ruang gerak yang lebih besar bagi Bank Indonesia serta menjadi sentimen positif bagi aset domestik.
Harapan tercapainya kesepakatan mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz mendorong harga minyak menurun sekitar 8,2% selama sepekan. Penurunan harga minyak membantu mengurangi tekanan terhadap inflasi impor, subsidi energi, dan nilai tukar. Rupiah menguat sekitar 0,6% terhadap USD ke kisaran Rp17.890,-/USD, sementara yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun menurun ke sekitar 7,28%. Namun, kesepakatan tersebut belum final sehingga risiko geopolitik masih perlu dicermati.
Pemerintah juga mengumumkan tambahan likuiditas sebesar Rp70 triliun kepada bank-bank BUMN untuk mendukung penyaluran kredit. Namun, neraca perdagangan yang kembali mencatatkan defisit untuk bulan kedua berturut-turut menunjukkan bahwa kondisi eksternal Indonesia masih perlu diperhatikan. Pasar juga mencermati proses penunjukan Gubernur Bank Indonesia definitif untuk memastikan keberlanjutan dan kredibilitas kebijakan moneter.
Secara keseluruhan, penurunan harga minyak, pertumbuhan ekonomi yang solid, dan inflasi yang lebih rendah memberikan dukungan bagi pasar domestik. Namun, ketidakpastian geopolitik dan aksi jual Investor asing membuat pendekatan selektif tetap diperlukan. Kami tetap mengutamakan saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan valuasi menarik, disertai obligasi berkualitas sebagai sumber pendapatan yang stabil. Diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah investasi tetap menjadi strategi penting dalam menghadapi volatilitas pasar.
Pasar saham Amerika Serikat menguat selama sepekan, dengan S&P 500 naik sekitar 3,7% dan Nasdaq menguat 3,84%. Penguatan didukung oleh laporan keuangan perusahaan yang solid, penurunan harga minyak, dan harapan meredanya ketegangan di Selat Hormuz. Penurunan harga energi turut mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi dan mendukung minat Investor terhadap aset berisiko.
Aktivitas ekonomi Amerika masih menunjukkan momentum yang cukup kuat. ISM Manufacturing PMI meningkat menjadi 55,6, melampaui ekspektasi 54,0, sementara ISM Services PMI tercatat relatif stabil di 54,4. Namun, data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, dengan Nonfarm Payrolls turun sebesar 23.000 pada Juli, jauh di bawah ekspektasi kenaikan 80.000. Data Nonfarm Payrolls AS untuk Juni direvisi turun dari 57.000 menjadi 20.000 pada 7 Agustus 2026, bersamaan dengan dirilisnya laporan tenaga kerja bulan Juli.
Tingkat pengangguran memang menurun dari 4,2% menjadi 4,1%, tetapi penurunan tersebut disertai turunnya tingkat partisipasi tenaga kerja menjadi 61,4%. Data ini mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat dan mendukung pasar obligasi serta saham dalam jangka pendek. Meski demikian, pelemahan tenaga kerja juga meningkatkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS yang dijadwalkan dirilis pada 12 Agustus.
Di Tiongkok, PMI manufaktur swasta menurun menjadi 50,9, lebih rendah dari ekspektasi 51,5 dan data sebelumnya 51,7. Surplus perdagangan juga menyempit menjadi US$112,5 miliar dari US$125,62 miliar, menunjukkan bahwa momentum ekonomi Tiongkok mulai mengalami moderasi. Di tengah kondisi tersebut, indeks Shanghai tetap menguat sekitar 2,8%, sementara Hang Seng terkoreksi 0,8%.
Pasar saham Jepang menguat sekitar 1,9%, sedangkan Korea Selatan terkoreksi cukup dalam sebesar 5,1%. Pelemahan Korea terutama dipengaruhi oleh tekanan pada saham-saham semikonduktor setelah outlook salah satu produsen chip mengecewakan pasar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar teknologi Asia masih sangat sensitif terhadap perkembangan investasi dan monetisasi AI.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,29% | 5,61% | |
| Inflasi ID | 2,88% | 3,34% | |
| Suku Bunga ID | 5,75% | 5,75% | |
| Pengangguran ID | 4,65% | 4,68% | |
| Neraca Dagang ID | $-0,45 Bio | $-1,61 Bio | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 12 Agustus | US - Inflation Rate m/m | 0,1% | -0,4% |
| US - Inflation Rate y/y | 3,4% | 3,5% | |
| US - Core Inflation Rate m/m | 0,2% | 0,0% | |
| US - Core Inflation Rate y/y | 2,5% | 2,6% | |
| 17 Agustus | CN - Retail Sales y/y | 1,5% | 1,0% |
| CN - Unemployment Rate | 5,1% | 5,0% | |
| US - Retail Sales m/m | 0,1% | 0,2% | |
| US - Retail Sales y/y | 6,0% | 6,7% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 3 Agustus | US – ISM Manufacturing PMI | 55,6 | 54,0 | 53,3 |
| ID – Inflation Rate m/m | -0,14% | 0,1% | 0,44% | |
| ID – Inflation Rate y/y | 2,88% | 3,2% | 3,34% | |
| ID – Core Inflation Rate y/y | 2,76% | 2,8% | 2,76% | |
| 5 Agustus | ID – GDP Growth Rate y/y | 5,29% | 5,3% | 5,61% |
| 6 Agustus | CN – Trade Balance | $112,5Bio | $112,5Bio | $125,62Bio |
| 7 Agustus | US – Non-farm payrolls | -23K | 91K | 20K* |
| US – Unemployment Rate | 4,1% | 4,3% | 4,2% | |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)