3 Agustus 2026

Domestik

Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 0,64% didorong oleh sektor kebutuhan dasar dan sektor konsumsi siklikal yang masing-masing menyumbang 2,71% dan 2,61% terhadap indeks. Investor asing malah melakukan aksi jual sebesar Rp1,40 triliun dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Menunjukkan adanya penurunan kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.

Bank Indonesia secara mengejutkan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, berbeda dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan menjadi 6,00%. Bank sentral memilih menjaga stabilitas Rupiah melalui instrumen lain, seperti peningkatan daya tarik SRBI dan intervensi di pasar valuta asing, dibandingkan menaikkan suku bunga. Langkah ini didukung oleh stabilitas nilai tukar Rupiah yang masih bertahan di bawah level Rp18.000,-/USD, serta keputusan S&P yang sebelumnya mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan outlook Stable.

Pasar saham Indonesia sempat melanjutkan pemulihan setelah keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga dan dukungan dari peringkat kredit S&P. Namun, sentimen berbalik melemah menjelang akhir pekan mengikuti meningkatnya ketegangan geopolitik global dan lonjakan harga minyak. Di pasar obligasi, kebijakan suku bunga yang tetap stabil memberikan dukungan terhadap instrumen pendapatan tetap, meskipun risiko utama masih berasal dari kenaikan harga energi yang berpotensi mendorong inflasi dan menekan nilai tukar.

Secara keseluruhan, kenaikan harga minyak dan pelemahan sektor teknologi global kembali meningkatkan volatilitas pasar. Dalam kondisi seperti ini, kami tetap mengutamakan saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta valuasi yang menarik, disertai obligasi berkualitas sebagai sumber pendapatan yang stabil. Diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah investasi tetap menjadi strategi yang penting untuk menghadapi ketidakpastian pasar.

Amerika

Sentimen pasar global kembali melemah setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas, mendorong harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral. Di saat yang sama, laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Tesla, dan Intel mengecewakan pasar. Kekhawatiran Investor kini tidak hanya tertuju pada laba perusahaan, tetapi juga besarnya belanja investasi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang belum menghasilkan imbal balik yang jelas. Kombinasi kenaikan harga minyak dan pelemahan saham teknologi mendorong Investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Meski demikian, sektor energi justru menjadi salah satu penerima manfaat dari kondisi ini. Harga minyak dan gas yang tetap tinggi mendukung kinerja saham-saham energi, sementara komoditas seperti tembaga, nikel, dan litium juga berpotensi memperoleh sentimen positif apabila harga energi konvensional bertahan tinggi. Bagi Indonesia, tingginya kontribusi ekspor batu bara dan CPO turut membantu meredam dampak negatif kenaikan harga minyak terhadap perekonomian domestik.

Asia Pasifik

Jepang mencatat pelebaran defisit perdagangan yang jauh lebih besar dari perkiraan, mencerminkan melemahnya kontribusi sektor eksternal. Di sisi lain, inflasi meningkat tipis menjadi 1,7%, menunjukkan tekanan harga masih relatif terkendali.

Sumber : Refinitiv

Data Makro

  Data Makro Sekarang Sebelumnya
PDB ID 5,61% 5,39%
Inflasi ID 3,34% 3,08%
Suku Bunga ID 5,25% 4,75%
Pengangguran ID 4,85% 4,76%
Neraca Dagang ID $-1,61 Bio $0,09 Bio

 

Kalender Ekonomi

 

Minggu Ini
Tanggal Indikator Ekonomi Data Konsensus Data Sebelumnya
3 Agustus US – ISM Manufacturing PMI 54,0 53,3
ID – Inflation Rate m/m 0,1% 0,44%
ID – Inflation Rate y/y 3,2% 3,34%
ID – Core Inflation Rate y/y 2,8% 2,76%
5 Agustus ID – GDP Growth Rate y/y 5,3% 5,61%
6 Agustus CN – Trade Balance 112,5Bio $125,62Bio
7 Agustus US – Non-farm payrolls 91K 57K
US – Unemployment Rate 4,3% 4,2%

 

Minggu Sebelumnya
Tanggal Indikator Ekonomi Data Aktual Data Konsensus Data Sebelumnya
30 Juli US – Interest Rate 3,75% 3,75% 3,75%
US – Core PCE Price Index m/m 0,3% 0,1% 0,3%
US – Core PCE Price Index y/y 3,4% 3,2% 3,4%
US – GDP Growth Rate q/q Adv 1,5% 2,3% 2,1%

Disclaimer on

Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.

PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)