29 Juni 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar 4,55% didorong oleh sektor kebutuhan dasar dan sektor industri yang masing-masing menyumbang -11,19% dan -7,41% terhadap indeks. Investor asing malah melakukan aksi jual sebesar Rp3,19 triliun dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Menunjukkan kurangnya kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.
Likuiditas domestik terus membaik, tercermin dari pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) yang semakin meningkat. Dari sisi pasar modal, MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market dan belum mengambil keputusan penting pada peninjauan kali ini. MSCI mengapresiasi berbagai reformasi yang telah dilakukan, seperti peningkatan transparansi kepemilikan saham dan implementasi kerangka High Shareholder Concentration (HSC). Namun, lembaga tersebut masih menyoroti isu transparansi struktur kepemilikan dan pola perdagangan saham tertentu. Evaluasi lanjutan dijadwalkan pada bulan November, sehingga perhatian Investor masih tertuju pada implementasi reformasi yang sedang berjalan.
Sentimen pasar global membaik seiring meningkatnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang mendorong harga minyak turun mendekati level sebelum konflik. Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global dan meningkatkan minat Investor terhadap aset berisiko. Namun, kondisi geopolitik masih rapuh, terbukti setelah muncul laporan serangan terhadap kapal tanker yang kembali mendorong kenaikan harga minyak.
Fokus pasar kini bergeser dari risiko eskalasi perang menuju proses normalisasi pascakonflik. Investor menunggu bukti bahwa jalur pelayaran, kondisi keamanan, dan biaya asuransi benar-benar kembali normal sebelum optimisme dapat berlanjut. Meski harga minyak yang lebih rendah mendukung prospek inflasi, ekspektasi pasar masih mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun, sehingga pasar tetap sensitif terhadap rilis data inflasi dan ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal I direvisi naik menjadi 2,1% (annualized QoQ), lebih tinggi dari ekspektasi, yang menunjukkan kondisi ekonomi lebih tangguh dibandingkan perkiraan awal. Inflasi inti PCE bulanan tetap sesuai ekspektasi di 0,3%, menandakan tekanan inflasi masih bertahan. Di sisi lain, pesanan barang tahan lama (durable goods orders) turun 4,5% MoM setelah lonjakan pada bulan sebelumnya, mengindikasikan aktivitas investasi mulai kembali normal. Sementara itu, Kanada mencatat inflasi tahunan meningkat ke level tertinggi sejak Desember 2023, sedangkan inflasi inti relatif stabil.
Tiongkok mencatat kontraksi investasi asing langsung (FDI) yang lebih kecil dibandingkan perkiraan, mengindikasikan tekanan terhadap arus investasi asing mulai mereda. Di saat yang sama, suku bunga acuan pinjaman (Loan Prime Rate) dipertahankan di 3,0%, mencerminkan kebijakan moneter yang tetap akomodatif namun belum mengarah pada stimulus tambahan.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,61% | 5,39% | |
| Inflasi ID | 2,42% | 3,48% | |
| Suku Bunga ID | 4,75% | 4,75% | |
| Pengangguran ID | 4,85% | 4,76% | |
| Neraca Dagang ID | $3,32 Bio | $1,28 Bio | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 1 Juli | ID - Trade Balance | $4,0 Bio | $0,09 Bio |
| ID - Inflation Rate m/m | 0,2% | 0,28% | |
| ID - Inflation Rate y/y | 3,1% | 3,08% | |
| ID - Core Inflation Rate y/y | 2,4% | 2,59% | |
| US - ISM Manufacturing PMI | 53,7 | 54,0 | |
| 2 Juli | US - Nonfarm Payroll | 114K | 172K |
| US - Unemployement Rate | 4,3% | 4,3% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 25 Juni | US – Core PCE Price Index y/y | 3,4% | 3,3% | 3,3% |
| US – Core PCE Price Index m/m | 0,3% | 0,3% | 0,2% | |
| US – GDP Growth Rate q/q Final | 2,1% | 1,6% | 0,5% | |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)