25 Mei 2026
Sepekan terakhir IHSG mengalami pelemahan sebesar 8,35% didorong oleh sektor transportasi dan sektor kebutuhan dasar yang masing-masing menyumbang -19,18% dan -16,31% terhadap indeks. Investor asing juga melakukan aksi jual sebesar Rp1,86 triliun dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Menunjukkan kurangnya kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.
Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps, lebih besar dari ekspektasi pasar, sebagai langkah agresif untuk menjaga stabilitas Rupiah yang berada di level terlemah historis. Bank sentral menegaskan bahwa inflasi domestik masih terkendali di sekitar 2,42% dan fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tingginya volatilitas global.
Kenaikan suku bunga ini belum langsung memperkuat Rupiah secara signifikan karena nilai tukar masih sangat dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS dan tingginya harga minyak dunia. Namun, langkah tersebut diperkirakan dapat membantu meredam volatilitas pasar. Di pasar obligasi, kenaikan yield lebih terasa pada tenor pendek, sementara tenor panjang relatif lebih stabil sehingga kurva yield menjadi semakin datar.
Di Indonesia, pasar juga menunggu hasil review sovereign rating dari S&P Global Ratings serta dampak rebalancing indeks oleh MSCI pada akhir bulan. Secara keseluruhan, kondisi pasar diperkirakan masih volatil dalam jangka pendek sehingga strategi diversifikasi lintas aset dan mata uang tetap menjadi pendekatan utama bagi Investor.
Pasar global masih sangat dipengaruhi perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang terus berubah antara optimisme dan ketidakpastian. Fokus utama pasar tetap pada isu program uranium Iran serta kontrol terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi global. Meskipun terdapat kemajuan diplomasi, pasar belum melihat perkembangan yang cukup kuat untuk memperbaiki sentimen risiko secara signifikan.
Harga minyak Brent masih bertahan tinggi di sekitar USD105 per barel, menjaga ekspektasi inflasi global tetap tinggi dan mendorong yield obligasi AS bertahan di level tinggi secara historis. Investor global kini semakin berhati-hati karena arah kebijakan suku bunga sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga energi dan inflasi global.
Aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan, terlihat dari PMI komposit yang tetap kuat terutama ditopang sektor manufaktur akibat peningkatan persediaan barang di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Namun, sektor jasa mulai menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Data klaim pengangguran mingguan relatif sesuai ekspektasi pasar dan masih mencerminkan kondisi tenaga kerja yang stabil. Di sisi inflasi, pasar semakin khawatir setelah data producer price index (PPI) AS mencapai 6,4% YoY, yang mencerminkan tekanan harga yang semakin tinggi akibat lonjakan harga energi. Kondisi ini membuat pasar mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga kembali oleh The Fed pada tahun depan.
Ekonomi Jepang tumbuh lebih cepat berkat konsumsi domestik yang lebih kuat. Di sisi lain, inflasi justru sedikit melandai di luar ekspektasi, memberikan ruang lebih besar bagi kebijakan moneter yang tetap akomodatif.
Produksi industri Tiongkok tumbuh lebih lambat dan menjadi yang terlemah sejak Juli 2023. Perlambatan ini dipengaruhi oleh konflik Timur Tengah yang mengganggu aktivitas industri dan perdagangan global.
Sumber : Refinitiv
Data Makro
| Data Makro | Sekarang | Sebelumnya | |
|---|---|---|---|
| PDB ID | 5,61% | 5,39% | |
| Inflasi ID | 2,42% | 3,48% | |
| Suku Bunga ID | 4,75% | 4,75% | |
| Pengangguran ID | 4,85% | 4,76% | |
| Neraca Dagang ID | $3,32 Bio | $1,28 Bio | |
Kalender Ekonomi
| Minggu Ini | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 28 Mei | US – Core PCE Price Index m/m | 0,3% | 0,3% |
| US – Core PCE Price Index y/y | 3,3% | 3,2% | |
| US – GDP Growth Rate q/q 2nd Est | 2% | 0,5% | |
| Minggu Sebelumnya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Tanggal | Indikator Ekonomi | Data Aktual | Data Konsensus | Data Sebelumnya |
| 18 Mei | CN – Retail Sales | 0,2% | 2% | 1,7% |
| CN – Unemployment Rate | 5,2% | 5,3% | 5,4% | |
| 20 Mei | CN – Interest Rate | 3,5% | 3,5% | 3,5% |
| ID – Interest Rate | 5,25% | 4,75% | 4,75% | |
| 22 Mei | ID – Current Account | -$4,0 Bio | -$0,8 Bio | -$2,5 Bio |
Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.
PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)