Laba Operasional Maybank Indonesia Naik, didukung Kenaikan Fee Based Income 14,1%

 

 
Ikhtisar Keuangan Konsolidasian per 31 Desember 2019
 
Pertumbuhan  tahun 2019 dibandingkan 2018
  • Pendapatan non bunga (fee based income) naik 14,1% menjadi Rp2,6 triliun
  • Pendapatan Operasional Bruto tumbuh 3,7% menjadi Rp10,8 triliun
  • Pendapatan Operasional Sebelum Provisi naik 0,3% menjadi Rp4,4 triliun
  • Pendapatan Bunga Bersih tumbuh 0,8% menjadi Rp8,2 triliun
  • Kredit Perbankan Global tumbuh 3,4% menjadi Rp32,1 triliun
  • Total simpanan tabungan naik 5,4% menjadi Rp21,0 triliun
  • Total Simpanan Nasabah Perbankan Syariah tumbuh 9,4% menjadi Rp25,5 triliun
  • Total aset Perbankan Syariah tumbuh 8,1% menjadi Rp32,6 triliun, memberikan kontribusi 19,3% dari total aset konsolidasi Bank
  • Rasio Pembiayaan terhadap Simpanan/Financing to Deposit Ratio (FDR) membaik signifikan dari 101,5% pada Desember 2018 menjadi 94,0% pada Desember 2019
  • Posisi modal yang kuat dengan Rasio Kecukupan Modal/Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 21,4% dan total modal Rp26,8 triliun.
 
 
 
Jakarta, 18 Februari 2020
 
PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia atau Bank) hari ini mengumumkan peningkatan pendapatan operasional bruto 3,7% menjadi Rp10,8 triliun untuk tahun keuangan yang berakhir 31 Desember 2019 dibandingkan dengan Rp10,4 triliun tahun lalu.  Kenaikan pendapatan bruto terutama didukung oleh peningkatan pendapatan non bunga (fee based income) dalam periode tersebut.
 
Pendapatan operasional sebelum provisi naik 0,3% menjadi Rp4,4 triliun, sementara laba setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) sebesar Rp1,8 triliun dibandingkan dengan Rp2,2 triliun tahun lalu karena adanya peningkatan provisi sehubungan langkah konservatif yang dilakukan Bank dalam melakukan pencadangan kredit untuk portofolio pada segmen komersial yang terdampak oleh kondisi ekonomi yang menantang.  Provisi kerugian kredit naik 35,9% menjadi Rp1,8 triliun per Desember 2019.
 
Bank mencatat pertumbuhan pendapatan non bunga (fee based income) sebesar 14,1% menjadi Rp2,6 triliun pada Desember 2019 dibandingkan dengan Rp2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu, terutama didukung pendapatan dari fee Global Market, bancassurance, investasi, dan fee transaksi jaringan elektronik (e-channel).
 
Pendapatan bunga bersih meningkat 0,8% menjadi Rp8,2 triliun, sementara Marjin Bunga Bersih turun 17 basis point menjadi 5,07% pada akhir December 2019.  Namun, Marjin Bunga Bersih pada Desember 2019 naik 10 basis point dibandingkan 4,97% pada September 2019 karena upaya berkelanjutan Bank dalam meningkatkan imbal hasil kredit dan mengurangi biaya dana selama kuartal keempat tahun ini.  Bank juga berhasil mengurangi kelebihan likuiditas yang berbiaya tinggi yang dibukukan pada semester satu yang merupakan langkah aktif untuk memastikan kecukupan likuiditas dalam memitigasi semua risiko selama dan sesudah pemilu.  Bank akan terus menjaga kedisiplinan dalam penentuan suku bunga kredit dan pengelolaan dana secara aktif untuk dapat memitigasi tekanan pada marjin dengan lebih baik.
 
Strategi Bank untuk mengurangi biaya dana yang tinggi mengakibatkan penurunan total simpanan nasabah sebesar 5,3% menjadi Rp110,6 triliun per Desember 2019 dibandingkan dengan Rp116,8 triliun pada Desember 2018.  Meskipun demikian, Bank terus secara aktif menjaga aset dan liabilitas untuk memastikan tingkat pendanaan dan biaya yang optimal setiap saat.  Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to Deposit (LDR-Bank saja) berada pada tingkat yang sehat sebesar 94,1% sementara Rasio Cakupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR-Bank saja) berada pada 145,2% per Desember 2019, jauh melampaui kewajiban minimum sebesar 100%.
 
Total kredit turun 8,1% menjadi Rp122,6 triliun karena Bank terus berkomitmen menjalankan strategi konservatif dalam pertumbuhan kredit secara selektif dan Bank juga mengambil keputusan untuk menjalankan exit strategy terhadap beberapa kredit pada segmen korporasi dan komersial yang tidak sesuai dengan postur dan risk appetite Bank.  Per Desember 2019, Perbankan Global membukukan pertumbuhan kredit yang moderat sebesar 3,4% menjadi Rp32,1 triliun, sementara kredit Community Financial Services (CFS)-Non Ritel turun 17,1% menjadi Rp48,3 triliun dan kredit CFS Ritel turun 4,2% menjadi Rp42,2 triliun.
 
Biaya overhead tetap terkendali dengan kenaikan sebesar 6,2% menjadi Rp6,4 triliun pada Desember 2019 dari Rp6,0 triliun pada Desember 2018 sebagai hasil dari  pengelolaan biaya yang baik di seluruh lini bisnis dan support unit.  Biaya overhead ini termasuk insentif yang dibayarkan untuk simpanan mudharabah yang tumbuh 79,3%.  Di luar biaya insentif tersebut, biaya operasional aktual relatif sama sebesar Rp5,6 triliun.
 
Tingkat non-performing loan (NPL) sebesar 3,3% (gross) dan 1,9% (net) pada Desember 2019 dibandingkan dengan  2,6% (gross) dan 1,5% (net) pada Desember 2018.  Bank senantiasa menempuh langkah proaktif untuk mendukung nasabah dalam menghadapi tantangan dan menjaga postur risikonya untuk menjaga kualitas aset.
 
Posisi modal Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 21,4% pada Desember 2019 dibandingkan dengan 19,0% pada periode yang sama tahun lalu dan total modal Rp26,8 triliun pada Desember 2019 dibandingkan dengan Rp26,1 triliun pada Desember 2018.
 
Perbankan Syariah
Perbankan Syariah mencatat pertumbuhan total aset sebesar 8,1% mencapai Rp32,6 triliun pada Desember 2019 dari Rp30,2 triliun pada Desember 2018 dan memberikan kontribusi 19,3% terhadap total aset konsolidasi Bank dan  21.1% dari total aset Bank saja. Total simpanan nasabah naik 9,4% menjadi Rp25,5 triliun dari Rp23,3 triliun.  Kualitas aset Perbankan Syariah terus membaik seperti yang diperlihatkan dari tingkat Non Performing Financing (NPF) menjadi 2,0% (gross) dan 1,6% (net) pada Desember 2019 dari 2,8% (gross) dan 1,9% (net) pada Desember 2018.
 
Strategi Sharia First Bank dan implementasi Leverage Model dimana Unit Usaha Syariah memiliki akses pada sumber daya seluruh Bank untuk mengembangkan dan memasarkan seluruh produk Syariah telah memainkan peran penting bagi kinerja Perbankan Syariah Maybank Indonesia yang signifikan.
 
Anak Perusahaan
 
PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance) terus mencatat kinerja yang sehat dengan laba sebelum pajak meningkat sebesar 11,6% menjadi Rp476 miliar untuk tahun keuangan 2019. Maybank Finance terus fokus untuk memastikan pengelolaan aset yang baik dengan penurunan NPL menjadi 0,27% (gross) dan 0,14% (net) per Desember 2019 dibandingkan dengan 0,53% (gross) dan 0,27% (net) pada periode yang sama tahun lalu.
 
Laba sebelum pajak PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM) naik 28,4% menjadi Rp364 miliar meskipun mengalami penurunan total pembiayaan konsumer (WOM saja) sebesar 1,6% dari Rp7,5 triliun pada Desember 2018 menjadi Rp7,3 triliun pada Desember 2019. Kenaikan laba WOM merupakan dampak implementasi strategi untuk fokus pada dealer yang berkualitas sehingga menghasilkan portolio yang lebih baik. Bisnis pembiayaan multiguna WOM juga terus memberikan pertumbuhan sehat.  WOM mencatat peningkatan kualitas aset yang tercermin pada penurunan tingkat NPL menjadi 2,0% (gross) dan 0,6% (net) dari 2,8% (gross) dan 0,8% (net). Ke depan, WOM akan terus fokus untuk menumbuhkan bisnis dengan praktik manajemen risiko yang berhati-hati.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, “2019 kembali menjadi tahun yang menantang, tetapi Maybank Indonesia berhasil memperoleh pendapatan operasional yang baik di tengah menurunnya pertumbuhan kredit.  Fee income yang diperoleh dari transaksi melalui channel M2U, bancassurance, wealth management fee meningkat tajam dan menjadi penopang pertumbuhan pendapatan Maybank Indonesia.  Aplikasi mobile banking M2U yang diperbaharui dan diluncurkan di bulan September 2019 menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan fee based income serta peningkatan akuisisi nasabah.  M2U yang telah diperbaharui ini menjadi tolok ukur dalam customer experience dan kami berharap dapat memperluas basis pelanggan karena akan lebih banyak nasabah yang beralih ke platform digital.”

“Ke depan, kami akan fokus pada peningkatan hubungan dengan nasabah untuk lebih memahami kebutuhan keuangan mereka, sehingga kami dapat memberikan solusi keuangan menyeluruh, serta memperluas pangsa pasar kami di segmen yang menguntungkan.”

Presiden Komisaris Maybank Indonesia dan Group President & CEO Maybank, Datuk Abdul Farid Alias mengatakan, “Kami berbesar hati dengan pertumbuhan pendapatan kami di tengah iklim ekonomi yang menantang dan yakin bahwa kami telah memiliki fondasi yang diperlukan untuk terus meningkatkan peluang pertumbuhan di masa mendatang.  Menghadapi proyeksi ekonomi global yang masih belum pasti, kami akan fokus pada pertumbuhan yang bertanggung jawab dengan menjaga kedisiplinan dalam penentuan harga dan memastikan kualitas aset, dengan juga memprioritaskan pengelolaan biaya dan likuiditas yang efektif.  Pada saat yang sama, kami akan mempercepat transformasi digital Maybank Group untuk mendorong Maybank Indonesia masuk ke fase pertumbuhan berikutnya dan memungkinkannya untuk meningkatkan basis pelanggan dengan biaya yang efektif.”
 
---0000----
 
Catatan untuk editor
Maybank Indonesia merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia yang memiliki jaringan regional maupun internasional Grup Maybank. Maybank Indonesia menyediakan serangkaian produk dan jasa komprehensif bagi nasabah individu maupun korporasi melalui layanan Community Financial Services (Perbankan Ritel dan Perbankan Non-Ritel) dan Perbankan Global, serta pembiayaan otomotif melalui entitas anak yaitu WOM Finance untuk kendaraan roda dua dan Maybank Finance untuk kendaraan roda empat. Maybank Indonesia juga terus mengembangkan layanan dan kapasitas Digital Banking melalui Mobile Banking, Internet Banking, Maybank M2U (mobile banking berbasis internet banking) dan berbagai saluran lainnya.
 
Per 31 Desember 2019, Maybank Indonesia memiliki 374 cabang termasuk cabang Syariah yang tersebar di Indonesia serta satu cabang luar negeri (Mumbai, India), 21 Mobil Kas Keliling dan 1.571 ATM termasuk CDM (Cash Deposit Machine) yang terkoneksi dengan lebih dari 20.000 ATM tergabung dalam jaringan ATM PRIMA, ATM BERSAMA, ALTO, CIRRUS, dan terhubung dengan 3.500 ATM Maybank di Singapura, Malaysia dan Brunei. Hingga akhir Desember 2019, Maybank Indonesia mengelola simpanan nasabah sebesar Rp110,6 triliun dan memiliki total aset senilai Rp169,1 triliun.
 
 
Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi:
Esti Nugraheni, Head, Corporate Communications
Telp: +6221 2922-8888