Maybank Indonesia Mencatat Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan Sebesar Rp609 Miliar

 

Ikhtisar Laporan Keuangan Konsolidasian per 31 Maret 2024.
(Angka yang dipaparkan di bawah ini adalah kinerja Bank pada kuartal pertama yang berakhir 31 Maret 2024, dibandingkan kuartal pertama 2023, Y-o-Y, kecuali dinyatakan berbeda)

Ikhtisar pertumbuhan Kuartal Pertama 2024 dibandingkan dengan Kuartal Pertama 2023

  • Total kredit tumbuh di seluruh segmen (korporasi, ritel dan non-ritel) sebesar 14,0% menjadi Rp122,28 triliun dari Rp107,22 triliun, yang terdiri dari:
    • Kredit Global Banking naik sebesar 18,2% didukung oleh pertumbuhan:
      • Kredit Large Local Corporate (LLC) sebesar 5,3%;
      • Kredit Financial Institution Group (FIG) sebesar 86,8%, yang diperluas penyalurannya kepada Lembaga Keuangan Bank dan Non-Bank.
    • Kredit Community Financial Services (CFS) Ritel dan Non-ritel naik 11,7% didukung oleh:
      • Kredit CFS Non-ritel naik 14,6% didorong oleh pertumbuhan pada:
        • Kredit Business Banking sebesar 19,8%;
        • Kredit Retail Small Medium Enterprises (diklasifikasikan oleh Bank sebagai RSME) sebesar 12,9%; Dan,
        • Kredit Small Medium Enterprise (diklasifikasikan oleh Bank sebagai SME+) sebesar 8,9%.
      • Berlanjutnya momentum pertumbuhan Kredit CFS Ritel sebesar 9,6% didukung utamanya oleh:
        • Kredit Unsecured (kartu kredit dan KTA) yang tumbuh 20,5%; dan,
        • Kredit otomotif anak perusahaan yang tumbuh 14,6%.
  • Total aset konsolidasian naik 10,0% menjadi Rp177,65 triliun dari Rp161,54 triliun;
  • Kualitas aset tetap terjaga dengan baik diiringi rasio Non-Performing Loan (NPL) yang membaik menjadi 2,7% (gross) dan 1,7% (net) pada Maret 2024 dari 3,4% (gross) dan 2,3% (net) pada Maret 2023.
    • Saldo NPL turun 10,1% dan Loan at Risk/LAR membaik menjadi 8,3% pada Maret 2024 dari 12,1% pada Maret 2023.
  • Simpanan nasabah tumbuh 13,1% menjadi Rp117,22 triliun dengan Giro dan Tabungan (CASA) tumbuh 8,3% dan Deposito Berjangka naik 18,4%. Rasio CASA tetap sehat sebesar 49,7% pada Maret 2024;
  • Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (Pre-provisioning Operating Profit/PPOP) sebesar Rp609 miliar:
    • Bank mengambil langkah proaktif dengan menyisihkan pencadangan sebesar Rp873 miliar untuk akun korporasi tertentu yang berpotensi mengalami penurunan kualitas aset. Dengan demikian, Bank mencatat kerugian sebelum pajak sebesar Rp265 miliar.
  • Loan to Deposit Ratio/LDR (Bank only) membaik menjadi 88,7% dan Liquidity Coverage Ratio/LCR (Bank only) pada level yang sehat sebesar 210,8%;
  • Capital Adequacy Ratio (CAR) tetap kuat sebesar 25,7%;
  • Unit Usaha Syariah:
    • Pembiayaan tumbuh 28,8% menjadi Rp31,88 triliun dari Rp24,74 triliun;
    • Aset meningkat 4,1% menjadi Rp41,22 triliun dari Rp39,61 triliun;
    • Simpanan nasabah naik 11,9% menjadi Rp34,72 triliun dari Rp31,03 triliun dengan CASA tumbuh 10,8%. Rasio CASA UUS sebesar 48,9%.
  • Pertumbuhan perbankan digital:
    • Nilai transaksi finansial nasabah ritel melalui M2U tumbuh 15,2% menjadi Rp30,83 triliun:
      • Fitur M2U QR Pay dan QR Cardless Withdrawal mencatat peningkatan volume transaksi sebesar 109% dengan nilai mencapai lebih dari Rp156 miliar;
    • Nilai transaksi finansial nasabah korporasi melalui M2E tumbuh 10,4% menjadi Rp200,91 triliun.

Jakarta, 30 April 2024,

PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (Maybank Indonesia atau Bank) mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 14,0% di seluruh segmen yaitu segmen korporasi, ritel dan non-ritel pada kuartal pertama 2024. Sampai dengan 31 Maret 2024, total kredit tumbuh menjadi Rp122,28 triliun dari Rp107,22 triliun.

Pada 2024, Maybank Indonesia melanjutkan penerapan Strategic Programmes (SP) 7 'Uplift Indonesia' yang  terintegrasi dengan strategi M25+ dari Maybank Group, khususnya pengembangan portofolio pembiayaan yang berpotensi dikembangkan lebih jauh atau 'super growth'. Ada pun ‘super growth’ tersebut meliputi, peningkatan kredit Global Banking, khususnya segmen Large Local Corporation (LLC) kredit non-ritel Usaha Kecil Menengah/Small Medium Enterprise yaitu SME+ dan RSME, serta kredit ritel otomotif. Strategi SP7 juga mencakup inisiatif-inisiatif yang bertumpu pada peningkatan, di antaranya, optimalisasi operasional Bank, digitalisasi segmen SME, inisiatif ‘One Maybank go to Market’ dan Shariah Wealth offerings, untuk menjadi pembeda, serta mendorong pertumbuhan pada segmen yang berpotensi untuk berkembang lebih jauh.

Penerapan strategi tersebut telah mulai membuahkan hasil sebagaimana tercermin pada laporan kuartal pertama 2024. Kredit Global Banking tumbuh 18,2% menjadi Rp46,42 triliun dari Rp39,29 triliun, didukung oleh pertumbuhan kredit LLC sebesar 5,3% menjadi Rp9,82 triliun dari Rp9,33 triliun dan kredit Financial Institution Group (FIG) tumbuh 86,8% menjadi Rp16,50 triliun dari Rp8,83 triliun.

dan kredit ritel dan non-ritel yang dikelompokan sebagai Community Financial Services (CFS) tumbuh 11,7% menjadi Rp75,86 triliun dari Rp67,93 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Demikian juga, portofolio kredit segmen Usaha Kecil Menengah/Small Medium Enterprises menguat, diiringi meningkatnya jumlah debitur dari berbagai wilayah di Indonesia. Kredit CFS Non-retail tumbuh 14,6% menjadi Rp31,90 triliun dari Rp27,83 triliun ditopang oleh kredit komersial Business Banking yang tumbuh 19,8% menjadi Rp12,03 triliun dari Rp10,04 triliun, dan kredit RSME yang tumbuh 12,9% menjadi Rp14,37 triliun dari Rp12,72 triliun, serta kredit SME+ yang tumbuh 8,9% menjadi Rp5,49 triliun dari Rp5,05 triliun.

Kredit CFS Ritel mencatat kenaikan sebesar 9,6% didukung oleh pertumbuhan KPR yang berkelanjutan sebesar 1,4% dan Kartu Kredit serta KTA yang tumbuh 20,5%. Sebagaimana kredit otomotif merupakan bagian dari 'super growth', kredit otomotif Anak Perusahaan tumbuh 14,6% menjadi Rp23,54 triliun dari Rp20,54 triliun (pembiayaan roda dua naik 13,7% dan pembiayaan roda empat naik 14,9%).

Berdasarkan laporan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) dan Gabungan Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo) pada Maret 2024, menunjukkan bahwa penjualan otomotif roda dua dan roda empat di industri justru mengalami penurunan masing-masing sebesar 4,9% dan 23,9%.

Ada pun peningkatan kredit yang disalurkan Bank tersebut telah mendorong total aset konsolidasian Bank untuk tumbuh 10,0% menjadi Rp177,65 triliun dari Rp161,54 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, total simpanan nasabah tercatat sebesar Rp117,22 triliun pada Maret 2024, naik 13,1% dari Rp103,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. CASA meningkat 8,3% didukung oleh Giro yang tumbuh 5,9% dan Tabungan tumbuh 11,9%. Deposito Berjangka (TD) juga naik 18,4% mengikuti tren kuartal sebelumnya. Rasio CASA Bank tetap sehat sebesar 49,7% pada Maret 2024.

Kualitas aset terjaga dengan baik. Rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 2,7% (gross) dan 1,7% (net) pada Maret 2024 dari 3,4% (gross) dan 2,3% (net) pada Maret 2023. Adapun, Rasio NPL pada Maret 2024 juga membaik dari 2,9% (gross) and 1,9% (net) pada Desember 2023.

Pada Maret 2024, Saldo NPL turun 10,1% Y-o-Y dan turun 3,3% pada Desember 2023 (YTD). Loan at Risk/LAR membaik menjadi 8,3% pada Maret 2024 dari 12,1% pada Maret 2023. LAR juga membaik dari 8,9% pada Desember 2023.

Pada kuartal pertama 2024, Bank membukukan pendapatan bunga lebih tinggi sebesar 10,7%. Namun oleh karena biaya dana yang meningkat, maka Net Interest Income (NII) turun 3,0%. Net Interest Margin (NIM) terkontraksi 61bps Y-o-Y.

Pendapatan non-bunga (Fee-based income) tercatat lebih rendah menjadi Rp370 miliar pada kuartal pertama tahun 2024 dari Rp574 miliar periode yang sama tahun lalu sehubungan melemahnya mata uang Rupiah yang dipengaruhi oleh perubahan tren dan proyeksi pergerakan suku bunga global serta pengaruh geopolitik. Selain itu, Bank membukukan asset recovery yang lebih rendah.

Pada kuartal pertama 2024, Bank terus melakukan investasi yang signifikan untuk meningkatkan kapabilitas dan kapasitas TI, termasuk penerapan beberapa bidang strategis sejalan dengan inisiatif M25+ guna mendorong digitalisasi dan modernisasi perangkat berbasis teknologi. Dengan demikian, biaya overhead naik 4,2% Y-o-Y.
Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) tercatat sebesar Rp609 miliar. Bank mengambil langkah proaktif dengan menyisihkan pencadangan sebesar Rp873 miliar untuk akun korporasi tertentu yang berpotensi mengalami penurunan kualitas aset. Nilai pencadangan tersebut dibentuk oleh Bank dan tidak sistemik. Dengan demikian, Bank mencatat kerugian secara konsolidasian sebelum pajak untuk periode yang berakhir pada 31 Maret 2024 sebesar Rp265 miliar. Rasio Loan loss coverage terhadap non-performing loans membaik dari 95,1% pada Maret 2023 menjadi 133,2% pada Maret 2024.

Pada Maret 2024, rasio Loan to Deposit (LDR) berada pada level 88,7% dan Liquidity Coverage Ratio/LCR (Bank only) tetap sehat sebesar 210,8%, jauh di atas ketentuan regulator yang sebesar 100%.

Rasio Kecukupan Modal (CAR) tetap kuat sebesar 25,7% pada Maret 2024.

Unit Usaha Syariah

Unit Usaha Syariah (UUS) Maybank Indonesia mencatat pertumbuhan aset sebesar 4,1% menjadi Rp41,22 triliun dari Rp39,61 triliun, didukung pembiayaan yang tumbuh signifikan sebesar 28,8% menjadi Rp31,88 triliun dari Rp24,74 triliun yang dikontribusikan dari pembiayaan korporasi dan SME. Pertumbuhan pembiayaan tersebut berkontribusi kepada total pembiayaan Bank (standalone) sebesar 29,3%.

Pendapatan setelah Distribusi Bagi Hasil Unit Usaha Syariah (UUS) Maybank Indonesia tercatat sebesar Rp320 miliar dibandingkan Rp369 miliar pada periode yang sama tahun lalu sehubungan dengan biaya dana yang tinggi dan persaingan yang ketat.

Pendapatan operasional lainnya (pendapatan biaya/fee-based) UUS naik 35,5% menjadi Rp49 miliar dari Rp36 miliar didorong utamanya dari peluncuran solusi investasi syariah yang menyeluruh yaitu 'Maybank Shariah Wealth Management/MySWM' ke pasar pada kuartal ketiga tahun lalu. UUS Maybank Indonesia menjadi bank pertama di Indonesia yang meluncurkan solusi investasi dengan prinsip syariah, MySWM.

Simpanan nasabah UUS tumbuh 11,9% menjadi Rp34,72 triliun dari Rp31,03 triliun dengan CASA yang tumbuh 10,8%. Pertumbuhan CASA tersebut didukung oleh Tabungan yang tumbuh 26,3%, sedangkan Giro turun 4,9%.

Deposito Berjangka juga tumbuh 13,0% mengikuti tren kuartal sebelumnya. Rasio CASA tetap stabil sebesar 48,9% pada Maret 2024 dari 49,4% pada Maret 2023.

Perbankan Digital

Pada kuartal pertama 2024, platform perbankan digital ritel M2U, mencatat peningkatan transaksi sebesar 16,5% menjadi sekitar 5,6 juta dari 4,8 juta lebih transaksi pada tahun lalu. Nilai transaksi tumbuh 15,2% menjadi lebih dari Rp30,80 triliun dibandingkan Rp26,77 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Simpanan nasabah yang diperoleh melalui platform ini tumbuh 39,2% menjadi lebih dari Rp8,90 triliun.

Fitur M2U QR Pay dan QR Cardless Withdrawal mencatatkan peningkatan transaksi sebesar 109%, dengan nilai mencapai lebih dari Rp156 miliar.

Sementara itu, platform digital untuk nasabah korporasi, M2E, mencatatkan lebih dari 1,08 juta transaksi pada tahun lalu, dengan nilai transaksi sebesar Rp200,91 triliun, naik 10,4% dari Rp181,92 triliun. Saldo giro dari pengguna M2E juga tumbuh 8,6% menjadi Rp27,49 triliun dari Rp25,36 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, dimana hal ini turut berkontribusi kepada saldo pendanaan secara keseluruhan.

Di periode yang sama, Bank memperkenalkan fitur Kartu Kredit secara digital melalui M2U, yang mendukung nasabah untuk melakukan pengajuan Kartu Kredit dan menukar poin loyalty TREATS melalui platform tersebut.

Di samping itu, Bank juga meraih penghargaan ‘The Most Satisfying KBMI 3 Bank in Mobile Banking’ dan ‘Satisfaction, Loyalty & Engagement 2024’ dari Infobank dan Marketing Research Indonesia. Penghargaan-penghargaan ini semakin menegaskan upaya berkelanjutan Maybank Indonesia untuk menghadirkan pengalaman perbankan digital yang mengedepankan personalisasi.


Pjs. Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan mengatakan bahwa pada kuartal pertama 2024, profitabilitas Bank dipengaruhi oleh pencadangan yang tinggi untuk akun korporasi tertentu. Pencadangan tersebut merupakan langkah proaktif yang dibentuk oleh Bank.

“Pada kuartal pertama 2024, kami mampu membukukan pertumbuhan kredit sebesar 14,0% di seluruh  segmen di tengah momentum pertumbuhan yang membaik. "

“Penerapan strategi ‘super growth’ telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Kami akan memperkuat upaya pengembangan bisnis sejalan dengan strategi M25+ untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan di masa depan. Strategi meliputi inisiatif-inisiatif yang mengedepankan, pendekatan customer centric dalam menyediakan solusi bagi nasabah, mendorong digitalisasi pada segmen SME, peningkatan produktivitas dan memperkuat sinergi ‘One-Maybank go to Market’ antar entitas Maybank di Indonesia untuk memperluas keragaman solusi yang ditawarkan. Peluncuran solusi wealth management berbasis syariah yang diluncurkan belum lama ini, juga mendapatkan respon positif. Kami akan melanjutkan upaya penetrasi dengan strategi yang secara lebih terfokus.”

 

Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato' Khairussaleh Ramli mengatakan bahwa dalam jangka pendek, Maybank Indonesia mengambil langkah untuk memperkuat fundamental Bank.

“Untuk strategi jangka menengah, Maybank Indonesia akan terus fokus untuk memperkuat seluruh lini bisnis utamanya. Upaya ini diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan bisnis Maybank Indonesia melalui berbagai strategi yang telah dicanangkan dalam strategi M25+ dengan tujuan menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan ke depannya.”

Anak perusahaan

PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance)

Seiring dengan diterapkannya strategi ‘super growth’ untuk memperkuat portofolio pembiayaan ritel, khususnya otomotif melalui pendekatan ‘One-Maybank’ dengan nasabah, pembiayaan roda empat Maybank Finance tumbuh 11,8% menjadi Rp7,44 triliun pada kuartal pertama 2024 dari Rp6,65 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Maybank Finance membukukan Laba sebelum Pajak yang sama pada Maret 2024 dengan Maret 2023, yakni sebesar Rp135 miliar, sehubungan dengan biaya pencadangan. NPL Maybank Finance tetap stabil sebesar 0.2% (gross) dan 0.1% (net) pada Maret 2024 dan Maret 2023.
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM)

Pada kuartal pertama 2024, WOM membukukan peningkatan pembiayaan kendaraan roda dua sebesar 13,7% menjadi Rp6,22 triliun dari Rp5,47 triliun sehubungan dengan diterapkannya kemitraan yang lebih kuat antar entitas Maybank, yaitu, ‘One-Maybank’ di Indonesia.

Laba sebelum Pajak tercatat sebesar Rp83 miliar, naik 3,1% dari Rp80 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Rasio NPL sebesar 2,1% (gross) dan 0,9% (net) pada Maret 2024 dari 1,8% (gross) dan 0,8% (net) pada Maret 2023.

 

********************


Catatan untuk Editor

Maybank Indonesia merupakan salah satu bank terkemuka di Indonesia yang memiliki jaringan regional maupun internasional Grup Maybank. Maybank Indonesia menyediakan serangkaian produk dan jasa komprehensif bagi nasabah individu maupun korporasi melalui layanan Community Financial Services (Perbankan Ritel dan Perbankan Non-Ritel) dan Perbankan Global, serta pembiayaan otomotif melalui entitas anak yaitu WOM Finance untuk kendaraan roda dua dan Maybank Finance untuk kendaraan roda empat. Maybank Indonesia juga terus mengembangkan layanan dan kapasitas Digital Banking melalui M2U (App dan Web), M2E untuk nasabah korporasi dan berbagai saluran lainnya.

Per Maret 2024, Maybank Indonesia memiliki 327 cabang termasuk cabang Syariah yang tersebar di Indonesia dan satu cabang luar negeri (Mumbai, India), 22 KCP Mobile dan 734 ATM (termasuk 26 Cash Recycle Machines/CRM) yang terkoneksi dengan lebih dari 20.000 ATM tergabung dalam jaringan ATM PRIMA, ATM BERSAMA, ALTO, CIRRUS, dan terhubung dengan 3.500 ATM Maybank di Singapura, Malaysia dan Brunei. Maybank Indonesia mengelola simpanan nasabah sebesar Rp117,22 triliun dan memiliki total aset senilai Rp177,65 triliun pada Maret 2024.

Untuk informasi lebih lanjut:

Tommy Hersyaputera
Head, Corporate & Brand Communications
Email: ccommunications@maybank.co.id  
Telp: +6221 2922-8888