Home / Highlights / Global Outlook

 

GLOBAL OUTLOOK 2019

 

Maybank Wealth Talk – Market Outlook 2019 dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI)
Narasumber : Katarina Setiawan - Chief Economist & Investment Strategist

Moderasi pertumbuhan ekonomi global tampaknya akan menjadi tema 2019.  Moderasi terjadi sebagai dampak atas konflik dagang berkepanjangan dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat diikuti beberapa negara berkembang yang terjadi di 2018. Untuk tahun 2019 IMF memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3,7%, sedikit turun dari ekspektasi sebelumnya 3,9%.  Pada saat yang sama, dampak kenaikan suku bunga di 2018 baru akan ‘terasa’ terhadap ekonomi satu tahun setelahnya, yaitu di 2019. Namun tidak seperti awal tahun 2018, saat ini faktor konflik dagang dan kenaikan suku bunga global telah masuk menjadi salah satu variabel ekspektasi di tahun 2019, sehingga  dampak terhadap pasar finansial tidak akan sebesar dibandingkan tahun 2018. Lebih jauh mengenai konflik perdagangan, walaupun memang  aktivitas manufaktur global saat ini mengalami sedikit pelemahan, namun sektor jasa (±69% dari PDB global) tetap kuat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi global.

Moderasi pertumbuhan ekonomi global akan membuat tekanan kenaikan suku bunga berkurang, tidak seagresif tahun 2018, dan secara keseluruhan tetap akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Negara-negara maju:

Kenaikan Fed Rate diperkirakan tidak akan seagresif tahun 2018.  Pudarnya dampak pemotongan pajak dan kenaikan suku bunga dua tahun terakhir membuat Amerika Serikat lebih berhati-hati menentukan arah suku bunga agar tidak menghambat pertumbuhan lebih lanjut.  Selain itu, saat ini Fed Rate juga sudah mendekati zona netral 3%.  Selain Amerika Serikat yang arah kebijakan moneternya tidak lagi seketat tahun 2018, Bank Sentral - Bank Sentral Eropa juga diperkirakan baru akan menaikkan suku bunga di 2020.

Negara-negara berkembang:

Sebagian besar suku bunga negara berkembang sudah naik di 2018 mengikuti langkah agresif The Fed. Ke depannya dengan inflasi yang masih terjaga rendah dan seiring dengan arah kebijakan The Fed, tekanan bagi Bank Sentral negara berkembang untuk menaikkan suku bunga juga jauh berkurang.

Kami memandang positif pasar saham Asia di 2019, dimana perubahan sentimen yang cukup drastis di 2018 membuat valuasi pasar saham Asia semakin menarik, valuasi turun ke level terendah, seperti tahun 2015 yang mencerminkan ekpektasi pertumbuhan laba negative walaupun kondisi fundamentalnya tetap sehat. Di lain pihak,  laba korporasi masih tumbuh positif di 2018. Sejalan dengan normalisasi pertumbuhan ekonomi global, ekspektasi pertumbuhan laba korporasi di negara maju diproyeksikan mengalami penurunan (dari kisaran 19% di 2018 ke kisaran 8,2% di 2019) sementara proyeksi pertumbuhan laba korporasi pasar Asia relatif stabil (dari kisaran 9,6% di 2018 ke kisaran 8,4% di 2019).  Dengan memperhitungkan ekpektasi pertumbuhan laba yang lebih baik dan valuasi yang menarik maka tahun 2019 menjadi entry point atraktif untuk pasar finansial Asia.

Perkembangan konflik dagang tetap akan menjadi faktor yang sulit ditebak karena masih dipenuhi ketidakpastian.  Berita positif dan negatif mengenai tarik ulur Amerika Serikat - Tiongkok datang silih berganti membawa sentimen yang juga dapat berbalik arah drastis.  Konflik dagang yang berkepanjangan di 2019 bisa saja terjadi, namun sepertinya puncak friksi dari konflik dagang Amerika Serikat - Tiongkok sudah terjadi di 2018. “Gencatan senjata” 90 hari yang disepakati kedua negara setidaknya membuat pasar lebih tenang, sementara negosiasi terus dilakukan untuk menghasilkan rincian kesepakatan lebih lanjut yang lebih konkrit dan diharapkan pasar bersifat final.   Langkah Amerika Serikat yang akan menunda kenaikan tarif impor dari 10% menjadi 25% atas USD200 miliar produk (yang tadinya akan berlaku di 1 Januari 2019) juga disambut pasar dengan baik. Jika perkembangan positif ini dapat dipertahankan maka kepercayaan investor akan semakin terbangun,  pasar dan sektor yang paling berdampak akan mendapatkan dorongan positif, khususnya bagi China A-shares, pasar finansial Asia Utara dan saham-saham eksportir.

Konsumsi akan tetap menjadi fokus pemerintah di 2019 terlihat dari anggaran belanja fiskal yang tetap ekspansif:

Memperhitungkan kenaikan upah nominal, inflasi yang terkendali, subsidi dan belanja sosial yang lebih tinggi, sebenarnya kenaikan daya beli masyarakat tahun 2019 mencapai lebih dari 10%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan UMP tahun ini sebesar 8,03%.

Mitigasi pemerintah untuk menekan defisit neraca berjalan sudah berada pada jalur yang tepat, namun hasilnya akan terjadi secara gradual, tidak instan.  Di 2019,  kami memperkirakan tetap ada tekanan pada defisit neraca berjalan, khususnya belanja impor pemerintah terkait pembangunan infrastruktur yang masih berlangsung dan belanja impor swasta seiring pemulihan permintaan domestik.  Diperkirakan tren menurunnya surplus pada neraca non-migas dan meningkatnya defisit pada neraca migas akan tetap tinggi, jika kenaikan harga minyak dunia tetap diiringi oleh pembatasan kenaikan harga subsidi BBM yang sarat penyalahgunaan.

Setelah mengalami tekanan yang cukup besar di 2018, intensitas tekanan rupiah di 2019 diperkirakan mereda, ditopang oleh suku bunga riil yang semakin menarik di tengah inflasi yang terjaga dan berbagai kebijakan pemerintah yang secara gradual akan membuahkan hasil:

Upaya menurunkan defisit neraca berjalan.

Upaya peningkatan DHE, yang mewajibkan perusahaan sumber daya alam mengembalikan sepenuhnya hasil ekspor ke rekening perbankan dalam negeri dalam mata uang rupiah.

Domestic NDF yang diharapkan dapat mengurangi volatilitas rupiah dengan hedging cost yang lebih murah bagi korporasi dan mengurangi spekulasi terhadap pasar NDF luar negeri.

Potensi pertumbuhan pasar saham 2019 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan tahun 2018, diuntungkan oleh valuasi yang menarik dan penyesuaian ekspektasi 2018 yang membawa valuasi pasar saham ke level yang semakin atraktif.   Penyesuaian ekspektasi membawa valuasi saat ini ke level di bawah rata-rata 5 tahun, jauh lebih rendah dibandingkan dengan awal tahun sebesar +2 standar deviasi. Rendahnya kepemilikan asing serta pertumbuhan pasar saham Indonesia yang tidak sejalan dengan proyeksi pertumbuhan laba korporasi di tahun ini, membuat potensi pertumbuhan pasar saham Indonesia 2019 semakin atraktif. Momentum pertumbuhan laba korporasi yang sampai kuartal ketiga 2018 ini tetap baik diharapkan akan terus berlanjut di 2019.

Tahun 2019, tekanan terhadap pasar obligasi diperkirakan akan semakin berkurang, didukung oleh stabilitas rupiah dan arah kebijakan moneter yang semakin suportif. Langkah pre-emptif pemerintah  dan Bank Indonesia untuk memperbaiki postur fiskal, defisit neraca berjalan dan volatilitas nilai tukar rupiah diapresiasi oleh investor.  Hal ini terlihat dari akumulasi pembelian asing yang cukup besar di kuartal terakhir 2018. Stabilitas rupiah dan berkurangnya agresivitas pengetatan moneter baik The Fed dan Bank Indonesia akan menopang pasar obligasi di 2019.

 

Nara Sumber:

Katarina Setiawan
Chief Economist & Investment Strategist

 

PENGUNGKAPAN DAN SANGGAHAN: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.


Dokumen ini disusun berdasarkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia tidak menjamin keakuratan, kecukupan, atau kelengkapan informasi dan materi yang diberikan. Meskipun dokumen ini telah dipersiapkan dengan seksama, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi hukum dan keuangan yang timbul, baik terhadap atau diderita oleh orang atau pihak apapun dan dengan cara apapun yang dianggap sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan atas dasar keseluruhan atau sebagian dari dokumen ini. Reksa Dana Manulife adalah reksa dana domestik yang ditawarkan dan dikelola oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Penawaran reksa dana tidak didaftarkan sesuai dengan hukum dan peraturan lainnya selain yang berlaku di Indonesia. Investasi pada reksa dana bukan merupakan deposito maupun investasi yang dijamin atau diasuransikan oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia atau afiliasinya, dan tidak terbebas dari resiko investasi, termasuk di dalamnya kemungkinan berkurangnya nilai awal investasi. Nilai unit penyertaan reksa dana serta hasil investasinya dapat naik atau turun. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang, dan semua perkiraan yang dibuat hanya sebagai indikasi masa datang, bukan merupakan kinerja sebenarnya dari reksa dana. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia adalah perusahaan Manajer Investasi yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan izin dari Bapepam No. : Kep-07/PM/MI/1997 tertanggal 21 Agustus 1997. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia adalah bagian dari Manulife Asset Management. Informasi selengkapnya mengenai Manulife Asset Management dapat ditemukan di www.manulifeam.com. Manulife Asset Management, Manulife, dan desain logo Manulife adalah merk terdaftar dari Manufacturers Life Insurance Company dan digunakan oleh Manulife dan afiliasinya.

GLOBAL OUTLOOK 2018

Maybank Wealth Talk – Market Outlook 2018 dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).
Narasumber : Katarina Setiawan - Chief Economist & Investment Strategist

Sinkronisasi pertumbuhan ekonomi global yang mulai terjadi sejak tahun 2016 lalu,  dimana baik negara-negara maju maupun negara-negara berkembang sama-sama mengalami pertumbuhan yang meningkat, masih akan berlanjut di tahun 2018.  Kita tahu bahwa IMF baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB global tahun depan menjadi 3,7%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya dan mengindikasikan momentum yang masih tetap kuat. Perbaikan pertumbuhan ekonomi global tercermin pada peningkatan investasi, aktivitas perdagangan dan industri, tingkat keyakinan bisnis dan konsumer dan pada akhirnya juga berdampak positif pada kinerja korporasi dunia, termasuk juga di Asia dan Indonesia.

Memang pada umumnya perbaikan atau pemulihan ekonomi akan memicu kenaikan suku bunga.  Namun sejauh ini Bank Sentral Amerika Serikat mengindikasikan normalisasi kebijakan moneter - termasuk kenaikan suku bunga akan dilakukan secara gradual, berhati-hati, mencermati perkembangan dan dampak yang terjadi dan yang terpenting adalah tetap suportif untuk menghindari pembalikan arah jangan sampai pemulihan ekonomi yang baru mulai terjadi menjadi terhambat. Jerome Powell yang merupakan kandidat Fed Chairman pengganti Janet Yellen juga mengutarakan kebijakan kenaikan suku bunga yang tetap gradual, senada dengan kebijakan The Fed saat ini.  Keseragaman sikap seperti ini sudah ditunjukkan setidaknya oleh negara-negara G7, Eropa, Amerika Serikat maupun Jepang.

Saat ini, perdebatan utama baik di parlemen maupun di antara para ekonom mengenai penurunan pajak korporasi adalah dampaknya terhadap beban defisit fiskal di masa depan.  Namun ada satu hal yang tidak menjadi bahan perdebatan, bahwa pemangkasan pajak korporasi terlepas apakah hanya menguntungkan golongan tertentu pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, setidaknya untuk jangka pendek. Salah satu tujuan utama reformasi perpajakan adalah untuk mendorong investasi, terutama dari korporasi yang mendapatkan keuntungan dari pajak lebih rendah. Secara keseluruhan, pemotongan pajak dapat berdampak positif bagi Amerika Serikat dan pada akhirnya akan berimbas positif pada perekonomian global atas potensi peningkatan permintaan dan konsumsi dari Amerika Serikat.

Berbicara mengenai Asia, kekhawatiran mengenai Tiongkok salah satu sumber pertumbuhan dunia yang terpenting akan selalu mengemuka. Namun kita melihat perekonomian Tiongkok sepanjang tahun 2017 sudah jauh lebih stabil dibandingkan periode pelemahan ekonomi yang terjadi 5 tahun terakhir. Stabilisasi perekonomian ini diperkirakan juga akan berlanjut di 2018.   Saat ini, sektor-sektor perekonomian yang masuk kategori new economy seperti contohnya teknologi, robot industrial, mobil ramah lingkungan, sudah semakin berkontribusi pada pasar saham dan PDB, mengkompensasi sektor-sektor old economy seperti sector industry dan pertambangan yang mulai memudar. New economy akan berperan lebih dalam menopang pertumbuhan Tiongkok ke depan.

Untuk Indonesia, 2018 akan menjadi tahun dimana politik kembali mengemuka, maju ke ‘panggung utama’. Pilkada serentak akan diselenggarakan di pertengahan tahun dan pada saat yang sama tahapan-tahapan awal proses penyelenggaraan Pemilu Presiden 2019 pun akan mulai berjalan. Menariknya, 1 tahun menjelang Pemilu Presiden kali ini kondisinya sangat berbeda dengan 3 periode sebelumnya dimana saat ini kondisi perekonomian global sangat kondusif. Jika kita kilas balik, di tahun 2003 atau 1 tahun menjelang Pemilu 2004, perekonomian global baru mulai pulih dari kejatuhan dot-com era dan 9/11 Amerika Serikat. Satu tahun menjelang Pemilu 2009 dunia sedang dilanda krisis global dan 1 tahun menjelang pemilu 2014, Asia sedang dilanda ‘demam’ akibat US Taper Tantrum.

Kondusifnya situasi global sangat mendukung perekonomian Indonesia dan membantu membuat pemerintah untuk dapat lebih fokus mengejar tujuan-tujuan ekonomi yang telah dicanangkan sejak awal, seperti misalnya pembangunan infrastruktur, pemerataan pembangunan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Aktivitas perekonomian diperkirakan akan meningkat ditopang oleh belanja pemerintah, baik untuk infrastruktur, pengeluaran subsidi, maupun anggaran khusus persiapan Pemilu.

Memang terdapat risiko tidak tercapainya target penerimaan pajak, yang dapat menghambat belanja pemerintah.  Untuk mengatasinya, pemerintah terlihat memprioritaskan hal-hal yang bisa dikendalikan, yaitu mendorong belanja produktif (mengurangi belanja non-strategis) dan menyalurkan subsidi terarah, yang diharapkan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja, menopang daya beli masyarakat serta membawa dampak positif berantai pada perekonomian. Anggaran infrastruktur untuk tahun 2018 meningkat +5,7% YoY (setelah sebelumnya di tahun 2017 telah naik +45% dibandingkan tahun 2016). Subsidi energi kembali ditingkatkan, secara total naik +1,8% YoY, dengan fokus pada subsidi energi (BBM dan listrik). Kami melihat subsidi ini akan sangat membantu daya beli dan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat yang di tahun 2017 melemah, sekaligus mengendalikan inflasi. Kedepannya dengan asumsi tidak ada pengurangan subsidi seperti di tahun 2017, inflasi energi dapat terus turun dan membuat konsumen rumah tangga lebih berani untuk membelanjakan penghasilannya.

Sepanjang tahun 2017 IHSG telah mencatat rekor tertinggi, terutama didukung oleh sektor perbankan seiring dengan stabilisasi ekonomi yang antara lain ditunjukkan oleh tren penurunan kredit macet.  Tren positif perekonomian masih akan berlanjut di tahun 2018 dan peningkatan daya beli konsumen akan member dampak positif pada pertumbuhan penjualan emiten yang berorientasi domestik.  Di sisi lain, tema sinkronisasi pertumbuhan global yang telah dipaparkan di atas juga akan terus mendukung performa ekspor Indonesia dan kinerja laba dari perusahaan berbasis sumber daya alam di Indonesia. Tentunya selain dipengaruhi oleh faktor fundamental, kinerja pasar saham tidak  terlepas dari faktor sentimen. Situasi politik akan menjadi faktor risiko yang dapat mempengaruhi minat investasi di bursa saham, terutama bagi investor asing. Selain itu pemerintah perlu menunjukkan komitmen untuk menjaga kepastian hukum dan mengurangi intervensi yang berlebihan pada dunia usaha.

Untuk pasar obligasi, ada beberapa faktor global dan domestik yang akan berperan pada pergerakan di tahun 2018. Tiga factor dari sisi domestik adalah potensi kenaikan inflasi, potensi kenaikan peringkat sovereign rating dan pertumbuhan PDB:

  • Terdapat kekhawatiran bahwa Pilkada serentak bulan Juni nanti dapat memicu inflasi.  Namun kami melihat implikasi Pilkada terhadap inflasi tidak akan signifikan seperti yang dikhawatirkan, terutama jika kita berkaca pada inflasi yang ditimbulkan oleh tahapan Pilkada serentak di Februari 2017. Selain itu, kita ingat inflasi Juni 2017 sebesar 4,37% adalah inflasi tahunan tertinggi sepanjang 2017, yang artinya akan ada high base effect di Juni 2018.  
  • Potensi ditingkatkannya peringkat sovereign rating oleh Fitch Ratings.
  • Pertumbuhan PDB, bila berpijak dari data kuartal ketiga 2017, PDB Indonesia tumbuh lebih rendah dari konsensus ekspektasi. Dengan pertumbuhan yang masih lambat, Bank Indonesia diharapkan akan menjaga suku bunga rendah, yang  juga ditopang oleh inflasi yang selama ini masih sangat terjaga.  Cadangan devisa juga berada pada level yang cukup aman.

Dari sisi global, selain reformasi perpajakan, kenaikan suku bunga Amerika Serikat masih akan menjadi faktor dominan yang dicermati yang memberi dinamika bagi pasar obligasi. Konsensus memproyeksikan bahwa kenaikan suku bunga tersebut akan terjadi dua kali masing-masing 25 bps. Kenaikan ini tentu berdampak negatif untuk kelas aset obligasi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tetapi pengumuman Jerome Powell sebagai Fed Chairman pengganti Janet Yellen disambut gembira oleh pasar karena beliau cenderung lebih berhati-hati dalam kebijakan suku bunga dibandingkan kandidat lain. Faktor global lain yang juga perlu dicermati juga adalah rencana pengurangan stimulus di beberapa kawasan.

Tahun 2018 akan menjadi tahun yang sangat dinamis, penuh peluang namun juga dengan beberapa risiko melekat yang perlu dicermati. Kami memprediksi aktivitas perekonomian 2018 akan lebih baik, terutama ditopang oleh peningkatan belanja pemerintah menjelang dua pesta politik terbesar yaitu Pilkada dan juga Pemilu Presiden 2019. Peningkatan belanja pemerintah akan menciptakan dampak berantai pada meningkatnya daya beli masyarakat. Disamping itu, daya beli masyarakat sendiri pun akan terbantu oleh peningkatan subsidi yang telah dianggarkan pemerintah. Pada akhirnya, upaya pemerintah untuk meningkatkan belanja dan daya beli masyarakat seharusnya juga akan tercermin pada berlanjutnya momentum pertumbuhan laba korporasi Indonesia.

Namun pesta politik juga menimbulkan risiko unik tersendiri yaitu peningkatan volatilitas pasar finansial. Dari sisi global, pergerakan harga minyak dunia dan dampaknya pada APBN dan pendapatan negara juga perlu dicermati. Situasi geopolitik global dan normalisasi kebijakan moneter dunia, jika terjadi terlalu cepat dan tidak dikomunikasikan dengan baik, juga dapat mengganggu sentimen di pasar finansial baik dunia maupun domestik.

Investasi terutama di pasar modal adalah aktivitas yang tujuannya jangka panjang dan berkesinambungan. Kinerja pasar yang dinamis sepanjang tahun dapat menyebabkan alokasi investasi portofolio anda berubah dan tanpa sadar secara tidak langsung meng-ekspos portofolio terhadap risiko berlebih. Untuk mencapai hasil yang optimal, tentunya sebagai bagian dari pengelolaan investasi yang disiplin, investor harus secara regular melakukan evaluasi portofolio:

  1. Alokasi aset: tinjau kembali profil risiko dan target investasi Anda. Pastikan alokasi aset Anda terdiversifikasi dan sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko anda.
  2. Rebalancing: jika diperlukan lakukan rebalancing portofolio agar alokasi investasi anda tetap pada rencana awal yang telah ditetapkan berdasarkan profil risiko dan tujuan investasi.

Melakukan evaluasi portofolio dapat membantu menjaga tingkat risiko portofolio dan membantu Anda untuk melakukan keputusan buy & sell secara disiplin sehingga mencegah faktor emosi mendorong Anda melakukan keputusan yang irasional.

INDIKATOR PROYEKSI
CAD (% to GDP) 1,80 – 2,30
CPI (%) 3,30 – 4,20
BI 7-Days Reverse Repo Rate (%) 4,25 – 4,75
GDP Growth (%) 5,20 – 5,40
USD/IDR 13,200 -13,500
IHSG 6800 - 7000
Imbal Hasil SUN Tenor 10 Tahun (%) 5,75 – 6,25

 

Nara Sumber:

Katarina Setiawan
Chief Economist & Investment Strategist

 

PENGUNGKAPAN DAN SANGGAHAN: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.


Dokumen ini disusun berdasarkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia tidak menjamin keakuratan, kecukupan, atau kelengkapan informasi dan materi yang diberikan. Meskipun dokumen ini telah dipersiapkan dengan seksama, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi hukum dan keuangan yang timbul, baik terhadap atau diderita oleh orang atau pihak apapun dan dengan cara apapun yang dianggap sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan atas dasar keseluruhan atau sebagian dari dokumen ini. Reksa Dana Manulife adalah reksa dana domestik yang ditawarkan dan dikelola oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Penawaran reksa dana tidak didaftarkan sesuai dengan hukum dan peraturan lainnya selain yang berlaku di Indonesia. Investasi pada reksa dana bukan merupakan deposito maupun investasi yang dijamin atau diasuransikan oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia atau afiliasinya, dan tidak terbebas dari resiko investasi, termasuk di dalamnya kemungkinan berkurangnya nilai awal investasi. Nilai unit penyertaan reksa dana serta hasil investasinya dapat naik atau turun. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang, dan semua perkiraan yang dibuat hanya sebagai indikasi masa datang, bukan merupakan kinerja sebenarnya dari reksa dana. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia adalah perusahaan Manajer Investasi yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan izin dari Bapepam No. : Kep-07/PM/MI/1997 tertanggal 21 Agustus 1997. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia adalah bagian dari Manulife Asset Management. Informasi selengkapnya mengenai Manulife Asset Management dapat ditemukan di www.manulifeam.com. Manulife Asset Management, Manulife, dan desain logo Manulife adalah merk terdaftar dari Manufacturers Life Insurance Company dan digunakan oleh Manulife dan afiliasinya.